7/24/2009

Pelukis Tanpa Tangan


Budayawan Emha Ainun Nadjib hampir selalu menolak saat ada pengemis meminta sedekah kepadanya.Bukannya pelit,tetapi,”Manusia kok mengemis.”ujarnya memberi alasan.Mungkin Emha benar,santunan yang bersifat charity(kedermawanan),bisa merendahkan martabat manusia.Karena saat mengemis jadi profes’,maka itu adalah pilihan manusia untuk tidak jadi mulia?sebab jelas,tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah.toh’dalam kenyataannya,banyak juga manusia,meskipun banyak kekurangannya,bahkan lebih parah dari pengemis dijalanan yang sehat-sehat dan normal secara fisik,namun mereka bertekad untuk tidak jadi pengemis.Mereka adalah teladan bagi siapapun yang merasa dirinya penuh kekurangan.Sebutlah Sadikin Pard.Pria kelahiran 29 oktober 1966,Malang,jawa timur terlahir dari rahim orang tua yang ekonominya kurang mampu.

Dasyatnya lagi,ia cacat!Sadikin lahir tanpa kedua tangan.Meskipun demikian,Sadikin masih beruntung karena orang tuanya membesarkan dirinya penuh dengan kasih sayang.Ayahnya yang buruh rendahan di kantor swasta dan ibunya usaha warung nasi,tak pernah membedakan perlakuan dirinya dengan anak-anak lainnya.Anak ke8 dari 9 bersaudara ini mendapat kasih sayang dan perhatian layaknya anak normal lainnya.Inilah yang mungkin membentuk pribadi Sadikin menjadi positif terhadap dirinya sendiri.Tuhan memang adil.Meski dirinya tak bertangan,Tuhan memberinya kelebihan lain.Sadikin sangat berbakat dalam hal melukis.”Di keluarga saya,tak satupun yang berbakat melukis seperti saya,”ujar Sadikin.Citra diri Sadikin menguat kala itu masih duduk di bangku SLTA karya lukisannya di atas media pelepah pisang dibeli oleh orang Belanda dan dibawa kenegaranya.Sejak itu ia merasa masa depan yang cerah siap menyambutnya.Ia melukis dan terus melukis.Hasil dari melukis,selain untuk membantu orang tua dan saudara-saudaranya,ia gunakan juga untuk sekolah sampai perguruan tinggi.Takdir mengantarnya bergabung dengan Association of Mouth&Foot Painting Artists(AMFPA).Pertemuan dengan AMFOA sewaktu masih kuliah semester 3.Saat itu Sadikin membaca dimedia cetak,”Pelukis Pakai Kaki Dapat Honor 300 Swis Franc/bulan dari AMFPA).Sadikin pun langsung pergi ke Jakarta,dimana AMFPA berkantor.Bulan september 1989 Sadikin resmi menjadi anggota AMFPA Indonesia.Dengan bimbingan dan bantuan pengurus AMFPA,Sadikin pun semakin mantap menjadikan lukisan sebagai jalan hidupnya.Ia mendapat honor bulanan rutin dari AMFPA.Dari honor itulah ia mampu menafkahi keluarganya,seorang istri dan dua anak lelakinya.”Besar harapan saya untuk menjadi pelukis ternama di AMFPA Indonesia ini,karena dengan begitu saya dapat hidup tanpa bantuan dan ketergantungan pada orang lain atau hidup mandiri,”ujar Sadikin.


2 komentar:

DwiCy Sukses mengatakan...

Barakallahuli walaka walakum... subhanallah Pak Sadikin (Rona, Medo[www.almedo.blogspot.com] berbanggalan engkau ayahmu.
Alhamdulillah Allah telah mengenalkan beliau kepada saya lewat 2 putranya.

indra mengatakan...

sama" pakk...

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar