
Di saat kebanyakan generasi muda Indonesia sedang demam dahsyat, terjangkit wabah musik akibat banjir grup band, mulai dari Hijau Daun sampai Kuburan, gadis aktif yang akrab disapa Etha ini justru mengukuhkan kiprahnya di dunia literasi lewat seabreg prestasi. Lihat saja sederetan perlombaan yang dijuarainya, rata-rata berkaitan dengan keterampilan menjalin kata-kata. Apa sih yang membuatnya mau nyemplung di samudera literasi?
Dunia Literasi yang Sepi
Buat Etha, setiap manusia memang punya pilihan hidupnya masing masing. Paling tidak tiap orang punya sesuatu yang dianggapnya penting dalam hidup ini kemudian diperjuangkan, dijadikan gairah. Namun, sayangnya, generasi muda saat ini tidak banyak yang menjadikan literasi sebagai pilihan, sehingga dunia literasi menjadi sepi.
Etha mengaku tidak tahu jelas kenapa dirinya bisa tertarik dengan dunia literasi. Pertama kali ia hanya senang menulis puisi, namun sejak kapan membuat puisi ia sendiri tidak ingat pasti. Yang jelas, ketika kelas satu SMP ia baru menyadari bahwa dalam kehidupannya, selain makan, minum, sekolah, kelas, teman-teman, dan PR, ada juga puisi.
“Mungkin karena saya ini memang tidak punya kecerdasan apa-apa. Di tengah ketidakmampuan apa-apa itu saya harus mencari sesuatu, apa yang saya sebut sebagai gairah hidup. Kalau tidak menjumpai pasti saya segera meninggal dunia atau hidup tetapi mati. Dan saya sepertinya menemukan juga. Sebuah aktivitas sederhana yang sepi dari pilihan orang itu. Mencerahkan, menawarkan pelbagai rahasia semesta: rahasia abad, rahasia bumi, rahasia nafas. Dan begitu banyak lagi komponen kehidupan yang membuat saya merasakan bisa bernafas bersama bumi.”
Deeu, Etha… puitis amat.
Membaca = Belajar
Sementara banyak anak muda yang menjadikan kemerduan suara, kemolekan badan, kecantikan dan ketampanan mereka sebagai modal berkompetisi dalam rangka menunjukkan eksistensi diri, Etha justru hanya bermodalkan kata-kata sebagai senjata.
Dengan senjata ampuh tersebut, berulangkali ia menjuarai kompetisi debat, menulis, pidato, serta menggondol predikat sebagai Muslimah Teladan, Inspiring People, maupun Mahasiswa Berprestasi. Bagi Etha, hal itu adalah efek dari kegiatan membaca.
“Dalam berpidato, debat yang cerdas, berdiskusi, dan menulis tentu saja kekuatan kata merupakan jaminan piala kemenangan tersendiri. Kata akan semakin kukuh jika banyak sekali perbendaharaan, maupun pengetahuan yang melatarbelakangi seseorang untuk memilih dan mengucapkannya. Hal itu tentu saja buah dari aktivitas rutin membaca dan menganalisis.” Bebernya.
Perihal aktivitas membaca dan belajar ini, Etha bernostalgia dengan kenangannya saat Pertandingan Pidato Internasional Tentang Melayu di Kuala Lumpur Malaysia yang diikuti 45 Negara dari seluruh Dunia pada Februari 2009 lalu.
“Saya terkagum-kagum pada teman satu pertandingan dari Australia, Aylen namanya, ketika dia berpidato dia seperti seorang guru besar yang sedang memberi mata kuliah. Tentu saja bukan sekadar dosen di kelas perkuliahan biasa, namun seperti dosen kehidupan. Dia tidak sekadar menyampaikan sesuatu, tapi dia mengajak kita berpikir jauh melebihi kadar yang dia sampaikan. Pidatonya tentang sebuah hasrat ingin tau, yang melatarbelakangi manusia. Dalam pidato itu berkisah tentang bagaimana dari abad ke abad manusia belajar, dari masa ke masa manusia dari seluruh penjuru dunia belajar.
Dengan gaya bahasanya yang menakjubkan ia mengajak kami semua, bersamaan dengan dua ribu penonton yang hadir secara langsung itu, memasuki hari pertama saat ia belajar di sekolah. Di hari pertama ia masuk sekolah dasar, hujan turun dengan lebatnya. Rambut merahnya basah kuyup, sepeda kecilnya basah kuyup, seluruh tubuhnya pula basah kuyup. Saat Aylen kecil masuk ke kelas ia hampir menangis, ibu guru pertamanya itu tidak mengasihaninya malah tersenyum dan berkata: “Tidak apa, Aylen, semua basah, buku basah, baju basah, yang penting ini,” ia menunjukkan kepada otak yang ada di kepala Aylen. “Yang penting adalah ini harus dijaga untuk belajar!” kata ibu gurunya itu dan memberi ia semangat untuk belajar dan bukannya menangisi baju sekolah dan buku buku barunya yang basah kuyup itu. Pelajaran pertama dalam hidup Aylen tentang apa yang sungguh-sungguh penting dalam hidup ini.
Di sela-sela pertandingan kami berdiskusi sedikit, dan ia ternyata menjalani hidup dengan membaca, memperhatikan hal hal kecil, dan menikmati aktivitasnya bersama belajar. Pada akhirnya ia berkata: belajarlah sampai kita mati.”
Etha sendiri merasakan banyak manfaat yang diperolehnya dari kegiatan sederhana bernama baca dan tulis. Di antaranya adalah menemukan gairah untuk hidup, serta kemampuan untuk menganalisis pelbagai hal, selain itu ia memperoleh pengalaman berkesan yang tidak terduga sebelumnya.
“Karena kegiatan membaca saya, pada suatu ketika saya merayakan hari kelahiran di luar negeri dengan biaya sepenuhnya penerbangan, hotel, makan dll dll dibiayai oleh bukan diri saya. Itu merupakan pengalaman berkesan dari kegiatan literasi yang saya lakukan.”
Gadis yang pada tahun 2009 ini menjadi editor Koran Kampus UI ini pun mengaku dapat membiayai sendiri perkuliahannya sejak semester 3, dikarenakan berkah dari kegiatan baca-tulisnya.
Terpikat Gurindam Dua Belas
Ditanya tentang siapa yang menjadi penulis favoritnya, Etha menyatakan sampai saat ini masih menjagokan Raja Ali Haji.
“Dia adalah salah satu sastrawan klasik Indonesia yang abadi kekekalannya. Mungkin kita banyak mengagumi sastrawan klasik yang bertebaran dari berbagai penjuru dunia: Jerman Goethe, India Tagore. Padahal jika mempelajari sejarah, budayawan dan sastrawan Indonesia itu mempunyai gagasan dan pemikiran yang sungguh luar biasa. Raja Ali Haji adalah juga orang yang berdiri di belakang keutuhan bahasa Indonesia. Pada abad ke-19 ia telah menyusun sebuah kitab pengetahuan bahasa yang menjadi pedoman baku bahasa Melayu saat itu. Bahasa yang sesuai kongres bahasa Indonesia II diputuskan menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Sebagai seseorang yang mempelajari budaya dan sastra Indonesia saya terpesona pada ritme karya dan kerja Raja Ali Haji.”
Ck…ck…ck, gadis yang masih sibuk merampungkan skripsinya agar lulus dari program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini juga memberi pesan untuk kita-kita generasi muda agar mulai ‘mencicipi’ buku berbobot, tidak hanya membaca untuk hiburan semata.
“Sesekali dalam kehidupan yang ramai ini, bacalah “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji. Duduk sendirian dan renungkanlah jiwa macam apa yang mampu menulis hal seperti itu. Renungkan lagi, baca lagi, kata katanya sangat sempurna dengan komposisi yang melengkapi satu sama lain. Diksi yang indah menggugah, baca lagilah rasakan kecerdasan macam apa dari diri si penulis itu,” pesannya.
Berhenti Menjadi Bodoh
Begitu diminta memberi saran untuk para sobat yang menganggap aktivitas membaca sebagai sesuatu yang berat, nggak asyik, dan lebih terpukau pada keglamoran televisi, Etha dengan semangat empat lima menjawab.
“Dunia pertivian di Indonesia bagi saya seperti hantu yang menghisap darah generasi muda. Sampai mereka mati tapi hidup. Hidup tapi mati. Saran saya, kepada generasi muda, ya berhentilah menjadi bodoh! Bacalah sedikit saja buku tentang agama kamu, dan budaya hidup yang seharusnya ada padamu. Berhentilah menonton tivi yang tidak bermanfaat yang hanya membahagiakan kaum kapitalis. Baca sedikit buku yang bagus, berhentilah menjadikan tv teman terbaikmu mudah mudahah kamu akan terbiasa.”
Akan tetapi di akhir pernyataannya, Etha menambahkan, “Entahlah, saya sepertinya tidak bagus dalam memberi saran.”
Tampaknya Etha sudah pada puncak kegemasan akan generasi muda Indonesia yang kurang menyadari pentingnya kecerdasan literasi.
So, ayo berhenti menjadi bodoh! [Syamsa]
Biodata
Nama
Margaretha Chrisna Sari (Etha)
TTL
Palembang, 3 Maret 1987
Alamat
Depok, Jawa Barat
Pendidikan
Semester 8 Sastra Indonesia FIB UI.
Motto hidup
Cakrawala cita-cita
Prestasi
1) Mahasiswa berprestasi Bidang Seni dan Budaya FIB UI tahun 2009 (April 2009).
2) Juara 2 dalam Pertandingan Pidato Internasional Tentang Melayu di Kuala Lumpur Malaysia yang diikuti 45 Negara dari seluruh Dunia ( Februari 2009).
3) Muslimah Teladan Indonesia versi FSLDKN Jadebek-Banten (Januari 2009).
4) Menjadi 10 terbaik dalam Perlombaan Esai tentang Korea Tingkat Nasional. Karya ini akan dibukukan (Desember 2008).
5) Peraih Salam Award 2008: as an inspiring People in University of Indonesia (Oktober 2008).
6) Terbaik ke-4 Dalam Lomba Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Nasional tentang “Taufiq Ismail” oleh Majalah Sastra Horison. Karya ini dibukukan dalam Taufiq Ismail di Mata Mahasiswa (Mei 2008).
7) Juara 1 Lomba Menulis Esai Mahasiswa Tingkat Nasional SOSPOL FIB UI (Februari 2008).
8) Juara 1 Lomba Debat Mahasiswa se-Jadebotabek oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI (Oktober 2007).
9) Pengajar Terbaik Bidang Bahasa pada Bimbingan Belajar BTA Mata Air Biru Depok (2006)
10) Juara 1 Lomba Cipta Puisi ROHIS FMIPA Unilversitas Lampung tingkat Pelajar SMU se-Bandar Lampung. (2005)
11) Juara 2 Lomba Penyuluhan Kesehatan se Sumbagsel dan Jawa UKM KS PMI Universitas Lampung (2004).
12) Juara 2 Lomba pembacaan Puisi SLTA se-Bandar Lampung STKIP PGRI (2004).
13) Juara 2 Lomba Pidato HUT Pramuka se-Provinsi Lampung ( 2001).
14) Beberapa puisi dimuat di dalam media massa dan berulang kali memenangkan berbagai perlombaan penulisan puisi dan cerpen.
Pengalaman Organisasi
2009 Editor Koran Kampus UI.
2009 Kelompok Studi Perempuan.
2008 Ketua Bidang 3 LDK SALAM UI.
2007 Ketua Keputrian FORMASI FIB UI.
2006 Deputi Departemen Syiar Sahabat Asrama UI.
2005 Kordinator Perkumpulan Penulis Muda.
2004 Humas PMR SMAN 3 Bandar Lampung (BL.)
2004 Kadersiasi ROHIS SMAN 3 BL.
2003 Sekretaris Umum OSIS SMAN 3 BL.
2003 Reporter Buletin Izzah ROHIS SMAN 3 BL.
2003 Reporter Buletin Jurnalistik SMA SMAN 3 BL.
2001 Ketua PMR SLTPN I Natar Lampung Selatan.
Sumber : www.annida-online.com

0 komentar:
Posting Komentar