Pertanyaan inilah yg selalu dilontarkan oleh teman-teman wanita Fatimah. Mereka sungguh merasa heran dengan Fatimah, yg belum punya pacar padahal umur fatimah sudah lebih dari sweet seventeen. Rata-rata hampir semua teman Fatimah sudah memiliki pacar, yang kata mereka pacaran itu indah bangat , serasa dunia milik berdua (waduhh..!). Diantara teman-teman Fatimah pun ada yang berjilbab (jilbab versi masa kini) dan sudah memiliki pacar.
Meraka juga terheran-heran sama Fatiamah. Kenapa demikian karena Fatimah termasuk gadis yg paling cantik dan manis diantara mereka. Aura kecantikan Fatimah begitu memikat mereka , padahal fatimah masih menggunakan hijab (pakian longgar yg menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan). Pernah suatu saat teman-teman wanita Fatimah datang ke rumah Fatimah untuk mengerjakan tugas kelompok. Kebetulan waktu itu Fatimah sedang mau mengerjakan sholat Zuhur, karena semua teman-temanya Fatimah adalah wanita. Fatimah tidak merasa khawatir untuk membuka Hijabnya untuk keperluan wudu, sehingga nampaklah rambut indah fatimah serta leher fatimah. Saat itu teman-teman wanita Fatimah melihat Fatimah tidak memakai penetup kepala dan rambut serta leharnya kelihatan, mereka semua terpana bahkan salah seorang berteriak histeris : Wooww imah kamu cantik sekali ..!. Fatimah tersenyum mendengar teriakan keterpesonaan temannya itu. Salah satu temannya berkata: “Imah kamu tidak kalah sama pemain sinetron yang cantik itu, itu lo si Bella..?!”. Fatimah membalas : “ si Bella siapa ya..?”. Salah satu temannya heran: “Aduh Imah kamu tidak tahu si bella , semua orang juga tahu lagi, dia pemain sinetron yang lagi naik daun lo”. “Maaf Imah gak pernah nonton sinetron” balas fatimah. Salah seorang dari mereka bercanda sambil nyindir : “Makanya Imah jangan baca buku agama terus dong, bosan tau, sekali-kali nonton sinetron kek, ke pub kek, nongkrong malam mingguan kek sama kita-kita, kan biar gaul gitu, kan malu nanti gak dibilang gaul , masak si Bella aja kagak kenal”. Fatimah hanya tersenyum sedih dan dalam hatinya berkata : “ Ya Allah berilah petunjuk kepada teman-temanku ini”.
Bukannya Fatimah tidak pernah memberikan nasehat kepada mereka bahkan sering . Namun mereka hanya tersenyum masam-masam aja seolah menganggap remeh nasehat dari Fatimah bahkan setelah diberi nasehat bukannya berterimakasih tetapi malah dibuat candaan . “ Iya bu ustadzah” kata seorang temannya saat itu (Astagafirulloh). Bahkan yang lebih gila lagi ada seorang temannya , yang menganjurkan Fatimah untuk membuka hijabnya dan menganjurkan berpakaian ketat. Alasannya agar semua pria bisa melihat pesona kecantikan wajah Fatimah dan keseksian tubuh Fatimah. “ Eh Imah , kita-kita kan tau kamu cantik, full cantik, kalau boleh usul ni , itu jilbab dibuka saja. Berpakain kayak kita-kita gitu lo. Aku yakin para pria tampan dan ganteng akan datang ke Imah, untuk mendapatkan cinta Imah, kita-kita sebagai teman ikut bangga lo , barangkali aja kita-kita dapat keciprakan pria ganteng sisa-sisa dari Imah (sambil tertawa genit) ..” . Begitu kata salah seorang teman sekolah Fatimah. Tentu saja Fatimah yang tahu hukum bertabbaruj itu menolak dengan keras usulan tersebut.
Dalam kesendiriannya Fatimah berdoa agar Allah menunjuki atau memberi hidayah teman-temannya. Fatimah pernah dengar dari seorang temannya yang berpendapat. “ Imah kamu kan tahu aku ini pake jilbab juga, yah walau pun beda-beda dikit aja sama kamu, tapi aku pacaran juga, kan tidak ada salahnya punya pacar asalkan kita bisa menjaga diri kita” . Begitu kata pendapat temannya.
Apakah dia tidak tahu bahwa islam sangat perhatian tentang menjaga hati. Islam tidak mengekang cinta seseorang karena itu sudah fitrah manusia berlainan jenis . Tetapi islam menganjurkan untuk mengikuti aturan yang ada. Aturan dari yang menciptakan cinta itu yaitu Allah. Mungkin pendapat temannya Fatimah itu benar bahwa mereka tidak melakukan apa-apa dan bisa jaga diri. Ok-lah anggap saja mereka tidak melakukan hubungan badan seperti suami isteri. Tetapi berkali-kali Fatimah menjelaskan ke teman-temannya bahwa zina itu bukan hanya hubungan badan diluar nikah tapi ada beberapa zina selain itu.
Kemudian Fatimah teringat bunyi hadist: ““Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243).
Fatimah pernah membaca kitab dari imam An Nawawi tentang penjelasan hadis diatas bahwasanya : Pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157).
Sambil bergumam dalam hati Fatimah hampir dapat memastikan bahwa adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau lak-ilaki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!.
Salah seorang teman Fatimah berkata bahwa mereka berpacaran untuk proses pengenalan sebalum menuju ke pernikahan . Mereka berpendapat : “Bagaimana mungkin kita menikah tanpa pacaran terlebih dahulu tanpa mengenal masing-masing karekternya masing-masing. Gak mungkin dong ah” . Betul islam juga menganjurkan untuk mengenal pasangannya masing-masing tetapi bukan dengan cara berpacaran. Fatimah juga teringat akan hadis nabi berikut ini : : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan" (HR Ahmad).
Fatimah teringat akan kisah seorang sahabat yang datang kepada Rasul. Sahabat ini datang kepada Rasul untuk menyampaikan niatnya bahwa dia ingin menikah. Kemudian Rasululloh bertanya : “ Bagus , tapi apakah kamu sudah mengenali calon mu itu..?” . Kemudian si sahabat rasul ini menjawab : “ Belum ya Rasul..”. Selanjutnya rasul menyuruh dia agar terlebih dahulu mengenalinya. Artinya kita diwajibkan untuk mengenal pasangan kita terlebih dahulu (Ta’aruf) tapi bukan dengan pacaran melainkan dengan aturan yang ada.
Kemudian Fatimah juga teringat akan hadis berikut : “Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. alBukhori: 1862, Muslim: 1338). Pada dasarnya kita mengenal wanita yang ingin kita nikahi itu bisa melalui mahromnya wanita tersebut. Jadi bukan berdua-duan. Jika misalnya kita ingin meneliti akhlak si wanita tersebut tanpa sepengetahuannya kita boleh mengutus seseorang untuk menelitinya. Misalnya dengan temannya si mahrom wanita tersebut. Atau bisa juga memanfaatkan teknologi yang lagi ngetrend sekarang. Tukar biodatanya masing-masing via email. Juga bisa juga lewat chatting tetapi perlu diingat juga chatting disini bukan tidak ada batasnya. Dilarang chatting bebas artinya harus dalam rambu-rambu yang dibenarkan. Tidak boleh ada kata-kata maksiat atau yang lagi ngetren sekarang dengan menggunakan kata cinta-cintaan, sayang-sayangan dan sejenis itu. Chatting disini dilakukan semata-mata untuk mengenal si wanita tersebut. Saling tukar menukar informasi yang berguna ke proses penganalan tersebut dan tidak mengarah kepada maksiat juga tidak melalaikan serta mengotori hati.
Fatimah tidak mau menyalahkan sepenuhnya persepsi atau pandangan dari teman-temannya itu. Fatimah sadar bahwa yang mempengaruhi mereka adalah media-media ala barat , juga pergaulan ala barat yang banyak digemari sekarang ini. Fatimah menyadari bahwa acara-acara televisi sekarang mulai dari lagu-lagunya , filem-filemnya sampai sinetron-sinetronnya kebanyakan menyajikan cinta berlainan jenis. Dan cinta itu diwujudkan dengan pacaran dan mereka terjebak dalam lingkaran setan pergaulan seperti itu.
Fatimah dalam sholatnya dan dalam kesendiriannya hanya bisa berdoa : “ Ya Allah berilah hidayah kepada teman-teman hamba agar bisa merasakan, menikmati indahnya hasil menjaga hati, indahnya menjaga bagian tubuh ini dari hal-hal yang Engkau larang. Tangan ini hanya untuk dijalanMU , Mata ini hanya untuk melihat yg tidak Engkau larang dan segala anggota tubuh ini adalah amanah dariMU, yang engkau perintahkan untuk digunakan dijalanMU. Ya Allah berilah kenikmatan dan keinginan yang luar biasa, bagi hambaMU ini dan teman-teman hambaMU untuk selalu berada dijalanMU dan berilah kebencian yang luar biasa bagi hambaMU ini dan teman-teman hamba dari hal-hal yang Engkau larang. Sesungguhnya Engkau maha mendengar dan maha penyayang bagi hambaMU yang ikhlas memohon kepadaMU amin ya Allah”.
Seraya meneteskan air mata begitulah doa singkat yang selalu di lafazkan oleh Fatimah dalam setiap sholatnya dan dalam kesendiriaannya.
From : eramuslim.com
11/09/2009
Menjadi Sahabat Sejatimu
Seribu sahabat terlalu sedikit, seorang musuh terlalu banyak. Itulah ungkapan orang bijak yang menganjurkan kita untuk senantiasa menjalin persahabatan, merawat dan memupuknya. Persahabatan merupakan kebutuhan manusia yang dengan itu hidup terasa indah dan bermakna. Namun terkadang kita tidak menyadari ketika seseorang menawarkan persahabatan tersebut. Kesalahan itulah yang coba kubagi lewat tulisan ini. Selama ini Ia tidak masuk dalam daftar nama-nama sahabatku. Entahlah... mungkin karena aku hanya mengenal lewat suaminya yang saat itu sekantor dengan suamiku. Kami juga jarang berinteraksi dalam suatu kegiatan ataupun acara kantor. Ia seorang wanita karir, hampir seluruh harinya dihabiskan di kantor. Ternyata dalam kesibukannya tersebut dia masih meluangkan waktu untuk menjalin persahabatan.
Mba Nia begitu aku memanggilnya. Sosok ibu yang bersahaja, supel dan bersahabat. Aku baru ingat ternyata selama ini ia selalu hadir dalam momen-momen indah kehidupanku selama kurang lebih dua tahun ini. Yang juga tidak luput dari kehadirannya, saat kami keluarga besar ditinggal pergi oleh ayah mertuaku, ia juga hadir cukup lama menemaniku, menghiburku,memberiku kekuatan. Tetapi aku tidak menyadari kehadirannya atau lebih tepatnya tidak menganggapnya ada. Yah.. baru aku sadari sekarang, ternyata aku terlalu angkuh untuk membuka hati untuknya. Saat itu aku hanya berpikir ia mau berteman denganku karena suaminya. Dia hadir dalam momen-momen penting tersebut karena ajakan suaminya. Ya semua ia lakukan karena suaminya bawahan suamiku. Sungguh terlalu picik aku berpikir.
Saat ini setelah suaminya tidak lagi sekantor dengan suamiku ternyata ia masih tetap sama. Ia masih rajin SMS hanya untuk menanyakan kabarku sekeluarga. Ia bahkan tidak sungkan untuk mampir jika kebetulan dalam perjalanan dan lewat di sekitar rumahku. Ia juga sering sekali menelpon hanya untuk menanyakan perkembangan buah hatiku. Tetapi semua kutanggapi biasa saja. Hatiku terlalu keras untuk memahami kebaikannya.
Suatu ketika aku menerima SMS dari seseorang yang isinya bahwa bayinya sedang demam. Tanpa berpikir lagi aku membalasnya “maaf ini dengan siapa?”. Lalu kembali dia membalas SMSku, “ ini dengan Mba Nia”. Aku bingung sepertinya aku tidak memiliki teman yang namanya Nia. Satu-satunya temanku yang bernama Nia adalah teman kuliah empat tahun yang lalu, dan sudah lama sekali tidak pernah kontak. Akupun kembali membalas SMSnya “ ini Mba Nia Makassar ya?” lalu diapun menjawab singkat “ Nia Rahman”. Aku terdiam dan memutar memori, lalu setengah tercekat aku sadar. Mba Nia? Masya Allah…Mba Nia punya bayi? Kapan hamilnya? Kapan melahirkannya? Ya…Allah aku baru sadar ternyata aku sangat cuek, nomor handphonenyapun tidak tersimpan di handphoneku.
Selama ini ia yang selalu memulai menelpon, mengirim sms menanyakan kondisiku dan keluarga. Sungguh aku sangat egois. Saat itupun dengan sangat malu aku langsung menelponnya,berbasi-basi menanyakan kondisi bayinya yang sedang sakit tersebut. Aku juga tidak lupa menjelaskan analisaku tentang kemungkinan sakit bayinya tersebut. Dan di ujung telepon akupun hanya bisa menyarankan pilihan terakhir ke dokter spesialis anak. Setelah itu tidak juga hatiku tergerak untuk mengunjunginya. Hari-hari selanjutnya aku sibuk dan melupakannya. Lalu tidak sampai seminggu kubaca SMSnya, “ Mba makasih banyak ya, karena sarannya Mba sekarang bayiku dah sehat”. Saat itu aku kembali seperti tertampar membaca smsnya, malu..sangat.
Cinta itu senantiasa memberi tanpa berharap menerima. Suatu hari ketika aku pulang kantor, saat masuk ke kamar, sebuah kado indah ada di meja. Tidak sabar akupun membukanya, sepasang baju yang pas dengan ukuran anakku dan sebuah jilbab cantik seukuran yang biasa aku pakai. Aku bolak balik bungkus kado tetapi tidak kutemukan sebuah nama di sana. Hatiku bertanya siapa kiranya yang memberikan kado tersebut. Akupun segera bertanya kepada Budi adikku yang saat itu ada di rumah dan menanyakan perihal kado tersebut. Dengan panjang lebar Budi menerangkan sosok pemberi kado tersebut.
Setelah menalar ciri-cirinya akupun memastikan bahwa si Pemberi kado tersebut adalah Mba Nia. Surprise yang sempurna. Saat itupun aku kembali didera rasa malu. Aku tidak tahu bagaimana menyembunyikan perasaan tersebut. Akupun berinisiatif menelponnya, kali ini aku berpikir menghapus kesan cuek yang selama ini kulakukan padanya. Alhamdulillah kali ini aku telah menyimpan nomornya, dua kali kucoba hubungi tetapi dia tidak mengangkat handphonenya. Setelah agak lama dia menghubungiku, tidak lupa ia meminta maaf karena ketika aku hubungi dia sedang mengurus bayinya yang sedang rewel.
Sampai beberapa menit ia bicara tak sedikitpun menyinggung masalah kado tersebut, kemudian aku berpikir mungkin bukan dia si pemberi kado itu. Lalu dengan dipenuhi rasa penasaran aku menanyakan apakah tadi malam ia mampir ke rumahku. Ia lalu bercerita bahwa kemarin memang sengaja ingin bersilaturahmi ke rumahku kebetulan suaminya yang selama ini bertugas di luar kota sedang libur. Tetapi dengan sedikit kecewa ia mengatakan tidak dapat bertemu denganku. Lagi-lagi ia tidak menyinggung perihal kado tersebut. Lalu dengan agak ragu kukatakan terima kasih atas kadonya. Baru kemudian dia mengatakan “ mudah-mudahan Mba senang menerimanya”. Waduh gimana sih Mba Nia, jelas aku senang menerimanya tetapi sumpah saat ini aku sangat malu dan merasa sangat rendah di hadapan Mba Nia.
Aku baru tahu ternyata dia kembali dari Yogyakarta 2 pekan lalu. Di sana ia melahirkan dan menghabiskan masa cutinya. Ya, Aku ingat lebih dari 2 bulan tidak menerima sms dan telponnya. Betapa jahatnya aku, tidak pernah peduli padanya. Sungguh sangat berbeda dengan dia, walaupun aku tidak pernah menghubunginya toh dia masih saja mengingatku. Salah satunya dengan memberiku kado yang katanya oleh-oleh dari Yogya. Yang membuatku ingin menangis saat kukatakan “ Mba Nia…terima kasih atas kadonya, ngga nyangka Mba Nia sebaik ini dan selalu mengingat saya”. Lalu dia menjawab “ saya selalu mengingat orang-orang baik seperti Mba Yanti”. Hah, ingin sekali aku berteriak dan menanyakan apakah benar yang dia ucapkan itu. Aku orang baik, kuulang-ulang terus kalimat itu. Kali ini aku benar-benar menangis, sepertinya dia hanya menyinggungku, mengajari aku bagaimana menjadi orang baik.
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa menuntun kita ke jalan yang benar. Salah satu bimbingan Allah agar kita senantiasa di Jalan-Nya adalah dengan mengirimkan orang-orang baik untuk menjadi guru dalam hidup. Bagiku Mba Nia adalah orang baik yang dikirimkan Allah untuk mengajariku makna persahabatan. Persahabatan yang sejati tanpa batas kepentingan. Selama ini aku telah salah berpikir. Seorang sahabat versiku jika ia sekantor, satu tempat pengajian, seprofesi,dan seide denganku.
Aku harus kembali mensetting ulang pikiranku tentang makna sahabat. Mba Nia sangat layak untuk menjadi sahabat, itu kesimpulanku sekarang. Dia telah mengajariku banyak hal, ketulusan, silaturahmi, persaudaraan. Ia juga telah membimbingku tanpa kata bahwa menjalin persahabatan itu hendaknya karena Allah bukan karena embel-embel duniawi. Aku yang hampir tiap pekan belajar agama ternyata masih belum bisa melakukannya. Mba Nia dengan pengetahuan islam yang awam telah menjadi guruku, sahabatku, saudaraku. Terima kasih Mba Nia..atas kehadirannya mewarnai hari-hariku. Insya Allah mulai detik ini aku akan berusaha menjadi sahabat terbaikmu, menjadi orang baik dan kita bersinergi untuk memupuk hidayah Allah. Amin… .
For Comment : sriyanti_anwar@yahoo.co.id era.muslim.com
Mba Nia begitu aku memanggilnya. Sosok ibu yang bersahaja, supel dan bersahabat. Aku baru ingat ternyata selama ini ia selalu hadir dalam momen-momen indah kehidupanku selama kurang lebih dua tahun ini. Yang juga tidak luput dari kehadirannya, saat kami keluarga besar ditinggal pergi oleh ayah mertuaku, ia juga hadir cukup lama menemaniku, menghiburku,memberiku kekuatan. Tetapi aku tidak menyadari kehadirannya atau lebih tepatnya tidak menganggapnya ada. Yah.. baru aku sadari sekarang, ternyata aku terlalu angkuh untuk membuka hati untuknya. Saat itu aku hanya berpikir ia mau berteman denganku karena suaminya. Dia hadir dalam momen-momen penting tersebut karena ajakan suaminya. Ya semua ia lakukan karena suaminya bawahan suamiku. Sungguh terlalu picik aku berpikir.
Saat ini setelah suaminya tidak lagi sekantor dengan suamiku ternyata ia masih tetap sama. Ia masih rajin SMS hanya untuk menanyakan kabarku sekeluarga. Ia bahkan tidak sungkan untuk mampir jika kebetulan dalam perjalanan dan lewat di sekitar rumahku. Ia juga sering sekali menelpon hanya untuk menanyakan perkembangan buah hatiku. Tetapi semua kutanggapi biasa saja. Hatiku terlalu keras untuk memahami kebaikannya.
Suatu ketika aku menerima SMS dari seseorang yang isinya bahwa bayinya sedang demam. Tanpa berpikir lagi aku membalasnya “maaf ini dengan siapa?”. Lalu kembali dia membalas SMSku, “ ini dengan Mba Nia”. Aku bingung sepertinya aku tidak memiliki teman yang namanya Nia. Satu-satunya temanku yang bernama Nia adalah teman kuliah empat tahun yang lalu, dan sudah lama sekali tidak pernah kontak. Akupun kembali membalas SMSnya “ ini Mba Nia Makassar ya?” lalu diapun menjawab singkat “ Nia Rahman”. Aku terdiam dan memutar memori, lalu setengah tercekat aku sadar. Mba Nia? Masya Allah…Mba Nia punya bayi? Kapan hamilnya? Kapan melahirkannya? Ya…Allah aku baru sadar ternyata aku sangat cuek, nomor handphonenyapun tidak tersimpan di handphoneku.
Selama ini ia yang selalu memulai menelpon, mengirim sms menanyakan kondisiku dan keluarga. Sungguh aku sangat egois. Saat itupun dengan sangat malu aku langsung menelponnya,berbasi-basi menanyakan kondisi bayinya yang sedang sakit tersebut. Aku juga tidak lupa menjelaskan analisaku tentang kemungkinan sakit bayinya tersebut. Dan di ujung telepon akupun hanya bisa menyarankan pilihan terakhir ke dokter spesialis anak. Setelah itu tidak juga hatiku tergerak untuk mengunjunginya. Hari-hari selanjutnya aku sibuk dan melupakannya. Lalu tidak sampai seminggu kubaca SMSnya, “ Mba makasih banyak ya, karena sarannya Mba sekarang bayiku dah sehat”. Saat itu aku kembali seperti tertampar membaca smsnya, malu..sangat.
Cinta itu senantiasa memberi tanpa berharap menerima. Suatu hari ketika aku pulang kantor, saat masuk ke kamar, sebuah kado indah ada di meja. Tidak sabar akupun membukanya, sepasang baju yang pas dengan ukuran anakku dan sebuah jilbab cantik seukuran yang biasa aku pakai. Aku bolak balik bungkus kado tetapi tidak kutemukan sebuah nama di sana. Hatiku bertanya siapa kiranya yang memberikan kado tersebut. Akupun segera bertanya kepada Budi adikku yang saat itu ada di rumah dan menanyakan perihal kado tersebut. Dengan panjang lebar Budi menerangkan sosok pemberi kado tersebut.
Setelah menalar ciri-cirinya akupun memastikan bahwa si Pemberi kado tersebut adalah Mba Nia. Surprise yang sempurna. Saat itupun aku kembali didera rasa malu. Aku tidak tahu bagaimana menyembunyikan perasaan tersebut. Akupun berinisiatif menelponnya, kali ini aku berpikir menghapus kesan cuek yang selama ini kulakukan padanya. Alhamdulillah kali ini aku telah menyimpan nomornya, dua kali kucoba hubungi tetapi dia tidak mengangkat handphonenya. Setelah agak lama dia menghubungiku, tidak lupa ia meminta maaf karena ketika aku hubungi dia sedang mengurus bayinya yang sedang rewel.
Sampai beberapa menit ia bicara tak sedikitpun menyinggung masalah kado tersebut, kemudian aku berpikir mungkin bukan dia si pemberi kado itu. Lalu dengan dipenuhi rasa penasaran aku menanyakan apakah tadi malam ia mampir ke rumahku. Ia lalu bercerita bahwa kemarin memang sengaja ingin bersilaturahmi ke rumahku kebetulan suaminya yang selama ini bertugas di luar kota sedang libur. Tetapi dengan sedikit kecewa ia mengatakan tidak dapat bertemu denganku. Lagi-lagi ia tidak menyinggung perihal kado tersebut. Lalu dengan agak ragu kukatakan terima kasih atas kadonya. Baru kemudian dia mengatakan “ mudah-mudahan Mba senang menerimanya”. Waduh gimana sih Mba Nia, jelas aku senang menerimanya tetapi sumpah saat ini aku sangat malu dan merasa sangat rendah di hadapan Mba Nia.
Aku baru tahu ternyata dia kembali dari Yogyakarta 2 pekan lalu. Di sana ia melahirkan dan menghabiskan masa cutinya. Ya, Aku ingat lebih dari 2 bulan tidak menerima sms dan telponnya. Betapa jahatnya aku, tidak pernah peduli padanya. Sungguh sangat berbeda dengan dia, walaupun aku tidak pernah menghubunginya toh dia masih saja mengingatku. Salah satunya dengan memberiku kado yang katanya oleh-oleh dari Yogya. Yang membuatku ingin menangis saat kukatakan “ Mba Nia…terima kasih atas kadonya, ngga nyangka Mba Nia sebaik ini dan selalu mengingat saya”. Lalu dia menjawab “ saya selalu mengingat orang-orang baik seperti Mba Yanti”. Hah, ingin sekali aku berteriak dan menanyakan apakah benar yang dia ucapkan itu. Aku orang baik, kuulang-ulang terus kalimat itu. Kali ini aku benar-benar menangis, sepertinya dia hanya menyinggungku, mengajari aku bagaimana menjadi orang baik.
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa menuntun kita ke jalan yang benar. Salah satu bimbingan Allah agar kita senantiasa di Jalan-Nya adalah dengan mengirimkan orang-orang baik untuk menjadi guru dalam hidup. Bagiku Mba Nia adalah orang baik yang dikirimkan Allah untuk mengajariku makna persahabatan. Persahabatan yang sejati tanpa batas kepentingan. Selama ini aku telah salah berpikir. Seorang sahabat versiku jika ia sekantor, satu tempat pengajian, seprofesi,dan seide denganku.
Aku harus kembali mensetting ulang pikiranku tentang makna sahabat. Mba Nia sangat layak untuk menjadi sahabat, itu kesimpulanku sekarang. Dia telah mengajariku banyak hal, ketulusan, silaturahmi, persaudaraan. Ia juga telah membimbingku tanpa kata bahwa menjalin persahabatan itu hendaknya karena Allah bukan karena embel-embel duniawi. Aku yang hampir tiap pekan belajar agama ternyata masih belum bisa melakukannya. Mba Nia dengan pengetahuan islam yang awam telah menjadi guruku, sahabatku, saudaraku. Terima kasih Mba Nia..atas kehadirannya mewarnai hari-hariku. Insya Allah mulai detik ini aku akan berusaha menjadi sahabat terbaikmu, menjadi orang baik dan kita bersinergi untuk memupuk hidayah Allah. Amin… .
For Comment : sriyanti_anwar@yahoo.co.id era.muslim.com
8/01/2009
Bom bunuh diri,jihadkah?

Kaum muslimin –semoga Allah menjaga aqidah kita dari kesalahpahaman- sesungguhnya menunaikan jihad dalam pengertian dan penerapan yang benar termasuk ibadah yang mulia. Sebab Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk berjihad melawan musuh-musuh-Nya.
Allah berfirman (yang artinya), “Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikaplah keras kepada mereka…” (QS. At-Taubah: 9).
Karena jihad adalah ibadah, maka untuk melaksanakannya pun harus terpenuhi 2 syarat utama: (1) ikhlas
(2) sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah fenomena pengeboman yang dilakukan oleh sebagian pemuda Islam di tempat maksiat yang dikunjungi oleh turis asing yang notabene orang-orang kafir. Benarkah tindakan bom bunuh diri di tempat semacam itu termasuk dalam kategori jihad dan orang yang mati karena aksi tersebut -baik pada saat hari-H maupun karena tertangkap aparat dan dijatuhi hukuman mati- boleh disebut orang yang mati syahid?
Bom Bunuh Diri Bukan Jihad
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. An-Nisaa’: 29)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/cara di dunia, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Adapun bunuh diri tanpa sengaja maka hal itu diberikan udzur dan pelakunya tidak berdosa berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan tidak ada dosa bagi kalian karena melakukan kesalahan yang tidak kalian sengaja akan tetapi (yang berdosa adalah) yang kalian sengaja dari hati kalian.” (QS. Al-Ahzab: 5).
Dengan demikian aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengatasnamakan jihad adalah sebuah penyimpangan (baca: pelanggaran syari’at). Apalagi dengan aksi itu menyebabkan terbunuhnya kaum muslimin atau orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslimin tanpa alasan yang dibenarkan syari’at.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar.” (QS. Al-Israa’: 33)
Membunuh Muslim Dengan Sengaja dan Tidak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan: [1] nyawa dibalas nyawa (qishash), [2] seorang lelaki
beristri yang berzina, [3] dan orang yang memisahkan agama dan meninggalkan jama’ah (murtad).” (HR. Bukhari Muslim)
Beliau juga bersabda, “Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar.” (HR. Al-Mundziri, lihat Sahih At-Targhib wa At-Tarhib). Hal ini menunjukkan bahwa membunuh muslim dengan sengaja adalah dosa besar.
Dalam hal membunuh seorang mukmin tanpa kesengajaan, Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat/denda dan kaffarah/tebusan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak sepantasnya bagi orang mukmin membunuh mukmin yang lain kecuali karena tidak sengaja. Maka barangsiapa yang membunuh mukmin karena tidak sengaja maka wajib baginya memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat yang diserahkannya kepada keluarganya, kecuali apabila keluarganya itu berkenan untuk bersedekah (dengan memaafkannya).” (QS. An-Nisaa’: 92). Adapun terbunuhnya sebagian kaum muslimin akibat tindakan bom bunuh diri, maka ini jelas tidak termasuk pembunuhan tanpa sengaja, sehingga hal itu tidak bisa dibenarkan dengan alasan jihad.
Membunuh Orang Kafir Tanpa Hak
Membunuh orang kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man (orang-orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslim), adalah perbuatan yang haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh jiwa seorang mu’ahad (orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian dengan pemerintah
kaum muslimin) maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya baunya surga bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Bukhari).
Adapun membunuh orang kafir mu’ahad karena tidak sengaja maka Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat dan kaffarah sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang menjadi musuh kalian (kafir harbi) dan dia adalah orang yang beriman maka kaffarahnya adalah memerdekakan budak yang beriman, adapun apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang memiliki ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka (kafir mu’ahad) maka dia harus membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya dan memerdekakan budak yang beriman. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut supaya taubatnya diterima oleh Allah. Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 92)
Bolehkah Mengatakan Si Fulan Syahid?
Di dalam kitab Sahihnya yang merupakan kitab paling sahih sesudah Al-Qur’an, Bukhari rahimahullah menulis bab berjudul “Bab. Tidak boleh mengatakan si fulan Syahid” berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang benar-benar berjihad di jalan-Nya, dan Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang terluka di jalan-Nya.” (Sahih Bukhari, cet. Dar Ibnu Hazm, hal. 520)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan (Fath Al-Bari, jilid 6 hal. 90. cet. Dar Al-Ma’rifah Beirut. Asy-Syamilah), “Perkataan beliau ‘Tidak boleh mengatakan si fulan syahid’, maksudnya tidak boleh memastikan perkara itu kecuali didasari dengan wahyu…”
Al-’Aini rahimahullah juga mengatakan, “Maksudnya tidak boleh memastikan hal itu (si fulan syahid, pent) kecuali ada dalil wahyu yang menegaskannya.” (Umdat Al-Qari, jilid 14 hal. 180. Asy-Syamilah)
Nah, sebenarnya perkara ini sudah jelas. Yaitu apabila ada seorang mujahid yang berjihad dengan jihad yang syar’i kemudian dia mati dalam peperangan maka tidak boleh dipastikan bahwa dia mati syahid, kecuali terhadap orang-orang tertentu yang secara tegas disebutkan oleh dalil!
Kalau orang yang benar-benar berjihad dengan jihad yang syar’i saja tidak boleh dipastikan sebagai syahid -selama tidak ada dalil khusus yang menegaskannya- lalu bagaimanakah lagi terhadap orang yang melakukan tindak perusakan di muka bumi tanpa hak dengan mengatasnamakan jihad -semoga Allah mengampuni dosa mereka yang sudah meninggal dan menyadarkan pendukungnya yang masih hidup-… Ambillah pelajaran, wahai saudaraku…
Sebagai penutup, kami mengingatkan kepada para pemuda untuk bertakwa kepada Allah dan menjauhkan diri mereka dari tindakan-tindakan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka takutlah kalian terhadap neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. Al-Baqarah: 24). Sadarlah wahai saudara-saudaraku dari kelalaian kalian, janganlah kalian menjadi tunggangan syaitan untuk menebarkan kerusakan di atas muka bumi ini. Kami berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar memahamkan kaum muslimin tentang agama mereka, dan menjaga mereka dari fitnah menyesatkan yang tampak ataupun yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya Muhammad, para pengikutnya, dan segenap para sahabatnya.
Diringkas oleh Ari Wahyudi dari penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah dalam kitab beliau Bi ayyi ‘aqlin wa diinin yakuunu tafjir wa tadmir jihaadan?! Waihakum, … Afiiquu yaa syabaab!! (artinya: Menurut akal dan agama siapa; tindakan pengeboman dan penghancuran dinilai sebagai jihad?! Sungguh celaka kalian… Sadarlah hai para pemuda!!) Islamspirit.com. Dengan tambahan keterangan dari sumber lain.
***
Penyusun: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
7/24/2009
Petani Tua
Alkisah,ada seorang petani tua yang bernama Pak Danis.Suatu hari ia menanam pohon asam dan mangga dikebunnya didekat jalan.Waktu berlalu,pohon itu dirawatnya dengan baik.Tingkah laku Pak Danis itu membuat aneh seorang saudagar yang lewat.Ia heran mengapa yang baru akan berbuah dan memberikan hasil setelah bertahun-tahunlamanya ditanam oleh pak Danis?Bukankah pak Danis sudah tua?Mengapa tidak menanam pohon yang siap panen dalam waktu dekat saja?
Ketika saudagar itu mencoba bertanya kepada pak Danis dengan sederetan pertanyaan diatas,lalu apa jawaban dari pak Danis.Beliau dengan enteng menjawab,”Saya sekarang sudah’bau tanah’,Ketika pohon itu besar dan berbuah,mungkin saya sudah lama meninggal.Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat.Orang yang lewat bisa berteduh,anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya.Ibarat mencari jarum dalam jerami,sulit sekali mencari sosok hebat seperti ini.Karena sulit,maka sangatlah istimewa orang yang memiliki prinsip hidup seperti pak Danis ini.Orientasi hidup untuk menjadi jalan kesuksesan dan kebahagiaan bagi orang lain merupakan ciri khusus dari langka seperti pak Danis.
Begitu pun bagi barisan korps pahlawan tanpa tanda jasa;,mereka memiliki kesempatan besar menjalani hidup seperti pak Danis.Mereka dapat mengabdikan hidupnya bagi jalan kesuksesan para siswanya.Setiap guru dapat memandang profesinya sebagai sarana untuk berinvestasi kebaikan dalam menghasilkan generasi masa depan bangsa yang lebih cerdas,terampil,dan mampu bersaing dalam kehidupan di zamannya.Mereka tidak memandang profesinya sebagai ladang mencari nafkah semata.,bahkan lebih dari itu,semua yang mereka memiliki di berikannya untuk keberlangsungan perjalanan panjang dunia pendidikan penuh liku.Bu muslimah,figur guru inspiratif yang mampu menghasilkan siswa-siswa hebat sekaliber Andrea Hirata.Saking terinspirasi dengan sosok gurunya,sebuah maha karya kehidupan ditulis dalam sebuah buku fenomenal.”LASKAR PELANGI”.Di belahan dunialain,Erin Gruwell,membantu siswa-siswanya yang kadung sudah dicap ”bodoh&berandalan”menjadi manusia-manusia yang dapat menemukan jati dirinya.Sebua film layar lebar ”Freedom Writers” menceritakan kisah hebat perjalanan seorang guru mengubah kehidupan para siswanya melalui kegiatan pembelajaran bahasa Inggris.Their words their story.Kehidupan siswanya berubah menjadi lebih baik dengan menggunakan cara yang super kreatif,menuliskan kisah hidup mereka lewat buku harian.Never ending memory,takan pernah dapat dilupakan.Itulah perasaan yang akan selalu ada di benak para siswa yang ketiban rejeki dapat belajar pada sosok guru yang inspiritif.Guru inspiratif berjuang bukan untuk menghabiskan materi kurikulum,mereka berjuang dengan ketulusan hati,semata untuk membuat para siswanya menemukan potensi dirinya dan mereka siap hidup dizamannya.
Ketika saudagar itu mencoba bertanya kepada pak Danis dengan sederetan pertanyaan diatas,lalu apa jawaban dari pak Danis.Beliau dengan enteng menjawab,”Saya sekarang sudah’bau tanah’,Ketika pohon itu besar dan berbuah,mungkin saya sudah lama meninggal.Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat.Orang yang lewat bisa berteduh,anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya.Ibarat mencari jarum dalam jerami,sulit sekali mencari sosok hebat seperti ini.Karena sulit,maka sangatlah istimewa orang yang memiliki prinsip hidup seperti pak Danis ini.Orientasi hidup untuk menjadi jalan kesuksesan dan kebahagiaan bagi orang lain merupakan ciri khusus dari langka seperti pak Danis.
Begitu pun bagi barisan korps pahlawan tanpa tanda jasa;,mereka memiliki kesempatan besar menjalani hidup seperti pak Danis.Mereka dapat mengabdikan hidupnya bagi jalan kesuksesan para siswanya.Setiap guru dapat memandang profesinya sebagai sarana untuk berinvestasi kebaikan dalam menghasilkan generasi masa depan bangsa yang lebih cerdas,terampil,dan mampu bersaing dalam kehidupan di zamannya.Mereka tidak memandang profesinya sebagai ladang mencari nafkah semata.,bahkan lebih dari itu,semua yang mereka memiliki di berikannya untuk keberlangsungan perjalanan panjang dunia pendidikan penuh liku.Bu muslimah,figur guru inspiratif yang mampu menghasilkan siswa-siswa hebat sekaliber Andrea Hirata.Saking terinspirasi dengan sosok gurunya,sebuah maha karya kehidupan ditulis dalam sebuah buku fenomenal.”LASKAR PELANGI”.Di belahan dunialain,Erin Gruwell,membantu siswa-siswanya yang kadung sudah dicap ”bodoh&berandalan”menjadi manusia-manusia yang dapat menemukan jati dirinya.Sebua film layar lebar ”Freedom Writers” menceritakan kisah hebat perjalanan seorang guru mengubah kehidupan para siswanya melalui kegiatan pembelajaran bahasa Inggris.Their words their story.Kehidupan siswanya berubah menjadi lebih baik dengan menggunakan cara yang super kreatif,menuliskan kisah hidup mereka lewat buku harian.Never ending memory,takan pernah dapat dilupakan.Itulah perasaan yang akan selalu ada di benak para siswa yang ketiban rejeki dapat belajar pada sosok guru yang inspiritif.Guru inspiratif berjuang bukan untuk menghabiskan materi kurikulum,mereka berjuang dengan ketulusan hati,semata untuk membuat para siswanya menemukan potensi dirinya dan mereka siap hidup dizamannya.
4 Golongan di akhir Zaman
Di akhir zaman,umat Islam terbagi atas 4 golongan :
1. Golongan pertama adalah golongan golongan abai.
Golongan ini dzalim pada diri sendiri.Tidak mau melaksanakan ibadah.Tidak berpikir halal dan haram.Tidak juga tahu Rukun Iman dan Rukun Islam,apalagi konsep ihsan.Jika ditanya apa agamanya,jawabnya Islam.Tapi tidak tampak sikapnya sebagai umat Islam.
2. Golongan kedua adalah golongan Cuai.
Merupakan golongan yang mengerjakan ibadah hanya sempat saja.Ingat Tuhan hanya di saat tertentu,seperti sedang susah,sedang sakit atau tatkala terkena musibah.Begitu kondisi senang,ibadah pun di tinggalkan.Ibadah pun ikut-ikutan.Disaat Ramadhan,ikut puasa.Yang lain tak minum Khamer,ikut tak minum.Sedikit yang dibuat,banyak yang ditinggalkan.
3. Golongan ketiga adalah golongan lalai.
Ini adalah golongan saleh.Karena semua ibadah dikerjakan termasuk yang sunah.Orang bilang baik dan taat pada Allah.Tetapi ibadahnya tak dihayati,bahkan bacaan shalat pun tak dipahami.Maka itulah hatinya yang lali.Ini membuat kita cemas.Orang shaleh pun tidak selamat karena lalai.Dan lalainya itu bukan perkara syariat tetapi perkara bathin,perkara hati,perkara jiwa.Hatinya telah mengabaikan Allah,tidak takut dan tidak cinta.Rasa kehambaannya tidak ada.Golongan ini tertipu dengan ibadahnya.Dia merasa besar,merasa pahala bisa selamatkan dirinya.Dia merasa pahalanya lebih banyak dan lebih besar ketimbang dosanya.Golongan ini jadi sombong.Maka banyak di golongan ini yang tak ada nur di wajahnya.Malah orang pun tak suka melihat wajahnya.
4. Golongan keempat adalah golongan takwa.
Gerak gerik kelompok ini tak tampak.Seolah tak ada istimewanya karena memang tidak berani tampil.Ibadahnya pun hanya wajib-wajib saja.Yang sunah pun yang perkara besar.Yang kecil tak sempat karena hidupnya sibuk untuk orang banyak.Buat ini buat itu untuk kerja-kerja kemasyarakatan.Dibanding ahli ibadah,jauh ibadahnya.Tetapi hatinya selalu pada Allah SWT.Takut dan cinta sehingga merasa hina dan tak berguna di hadapan Allah SWT.Golongan ini dijamin masuk syurga,namun amat sedikit jumlahnya.Padahal golongan inilah yang mendatangkan rahmat Allah SWT.Maka orang Islam dihina dimana-mana,tak dibantu Allah.Sebab,orang takwa sangat sedikit jumlahnya.
1. Golongan pertama adalah golongan golongan abai.
Golongan ini dzalim pada diri sendiri.Tidak mau melaksanakan ibadah.Tidak berpikir halal dan haram.Tidak juga tahu Rukun Iman dan Rukun Islam,apalagi konsep ihsan.Jika ditanya apa agamanya,jawabnya Islam.Tapi tidak tampak sikapnya sebagai umat Islam.
2. Golongan kedua adalah golongan Cuai.
Merupakan golongan yang mengerjakan ibadah hanya sempat saja.Ingat Tuhan hanya di saat tertentu,seperti sedang susah,sedang sakit atau tatkala terkena musibah.Begitu kondisi senang,ibadah pun di tinggalkan.Ibadah pun ikut-ikutan.Disaat Ramadhan,ikut puasa.Yang lain tak minum Khamer,ikut tak minum.Sedikit yang dibuat,banyak yang ditinggalkan.
3. Golongan ketiga adalah golongan lalai.
Ini adalah golongan saleh.Karena semua ibadah dikerjakan termasuk yang sunah.Orang bilang baik dan taat pada Allah.Tetapi ibadahnya tak dihayati,bahkan bacaan shalat pun tak dipahami.Maka itulah hatinya yang lali.Ini membuat kita cemas.Orang shaleh pun tidak selamat karena lalai.Dan lalainya itu bukan perkara syariat tetapi perkara bathin,perkara hati,perkara jiwa.Hatinya telah mengabaikan Allah,tidak takut dan tidak cinta.Rasa kehambaannya tidak ada.Golongan ini tertipu dengan ibadahnya.Dia merasa besar,merasa pahala bisa selamatkan dirinya.Dia merasa pahalanya lebih banyak dan lebih besar ketimbang dosanya.Golongan ini jadi sombong.Maka banyak di golongan ini yang tak ada nur di wajahnya.Malah orang pun tak suka melihat wajahnya.
4. Golongan keempat adalah golongan takwa.
Gerak gerik kelompok ini tak tampak.Seolah tak ada istimewanya karena memang tidak berani tampil.Ibadahnya pun hanya wajib-wajib saja.Yang sunah pun yang perkara besar.Yang kecil tak sempat karena hidupnya sibuk untuk orang banyak.Buat ini buat itu untuk kerja-kerja kemasyarakatan.Dibanding ahli ibadah,jauh ibadahnya.Tetapi hatinya selalu pada Allah SWT.Takut dan cinta sehingga merasa hina dan tak berguna di hadapan Allah SWT.Golongan ini dijamin masuk syurga,namun amat sedikit jumlahnya.Padahal golongan inilah yang mendatangkan rahmat Allah SWT.Maka orang Islam dihina dimana-mana,tak dibantu Allah.Sebab,orang takwa sangat sedikit jumlahnya.
Tiga Sebab Ibadah Hambar
Ada tiga sebab mengapa ibadah tidak mendidik kita selama ini :
▪ Pertama kita diajar ibadah cenderung hanya berkait dengan hukum-hukumnya,yakni tentang syarat,rukun,sah dan batalnya.Maka kita hanya berjaga-jaga diwilayah ini saja.
▪ Kedua ilmu lain seperti falsafahnya,kepahaman dan penghayatan di abaikan.Maka meski sah dan cukup syaratnya,ibadah tetap tak bisa dihayati.Tak terhayati,rugilah karena tak menyentuh hakikat ibadah.Karenanya meski sudah berpuluh-puluh tahun,jiwa ini seolah tetap kosong.Shalat sudah dilupakan seumur hidup,namun ahlak tetap tak berubah.Malah yang taat shalat jadi beku,jumud,pasif dan tidak produktif.Itulah karena ibadah tak menyentuh ruh,tak menjadi makanan jiwa dan tak membentuk serta memperkuat jiwa hingga tak pernah bisa menambah ketakwaan.Ruginya lagi,jangan-jangan ibadah itu tak sampai pada Allah SWT.
▪ Ketiga mengapa tak mendidik karena tak juga di ajarkan ilmu tentang Allah SWT.Meski tahu Allah SWT tapi tidak mengenalNya.Rosullullah saw : awal” agama adalah mengenal Allah SWT..
▪ Pertama kita diajar ibadah cenderung hanya berkait dengan hukum-hukumnya,yakni tentang syarat,rukun,sah dan batalnya.Maka kita hanya berjaga-jaga diwilayah ini saja.
▪ Kedua ilmu lain seperti falsafahnya,kepahaman dan penghayatan di abaikan.Maka meski sah dan cukup syaratnya,ibadah tetap tak bisa dihayati.Tak terhayati,rugilah karena tak menyentuh hakikat ibadah.Karenanya meski sudah berpuluh-puluh tahun,jiwa ini seolah tetap kosong.Shalat sudah dilupakan seumur hidup,namun ahlak tetap tak berubah.Malah yang taat shalat jadi beku,jumud,pasif dan tidak produktif.Itulah karena ibadah tak menyentuh ruh,tak menjadi makanan jiwa dan tak membentuk serta memperkuat jiwa hingga tak pernah bisa menambah ketakwaan.Ruginya lagi,jangan-jangan ibadah itu tak sampai pada Allah SWT.
▪ Ketiga mengapa tak mendidik karena tak juga di ajarkan ilmu tentang Allah SWT.Meski tahu Allah SWT tapi tidak mengenalNya.Rosullullah saw : awal” agama adalah mengenal Allah SWT..
Politik Umat Islam,Kemana?
Pengaruh barat memang telah merasuk ke banyak bidang.Bukan hanya sampai ke kultur dan gaya hidup,melainkan juga sudah merambah ke hal ideologis.Bicara politik hari ini adalah jelas bicara barat.Demokrasi dengan serba pemilihan(pemilu,pilpres,pilgub sampai pil-RT RW),sudah jadi bagian yang tak terpisahkan.Umat Islam juga larut dalam sistem ini.Jika ditanya mengapa ikut.jawabnya tak ada pilihan lain.Dan sebagian umat yakin bawa inilah satu-satunya cara yang paling baik karena mewakili semua pihak.
Hari ini umat Islam amalkan politik barat,politik sekuler untuk tegakan Islam.Praktek yang segala cara di halalkan.Ada fitnah,juga ghibah.Bukan lagi mencaci namun sudah mengatakan pihak lain tak pantas dipilih.Sambil mengusung dada mengatakan diri sebagai yang terbaik hingga layak dan memang pantas untuk tampil.Politik sekuler demokrasi ini penuh dengan kebohongan dan intrik.Saling sindir,saling ejek dan saling menjatuhkan.Rakyat jelata diserbu dengan serangan fajar’.Sedang pengusaha dan yang punya uang,diundang danai kampanye.Rakyat disuap untuk memilih.Kelas atas menyuap untuk memilih.Bedanya Cuma antara di dan me.Dalam kondisi ini pengusaha jahat pun sudah jadi pahlawan.Tak jelas mana lagi yang buruk dan yang baik,mana kawan dan mana lawan.Siapapun yang terpilih,mendisain negara berdasarkan konsep barat.Apalagi pihak asing juga diam-diam sudah memberi sinyal dan pesan.Politik kotor dan khianat terlanjur jadi lazim.Alasan tiada cara lain.Jika nanti menang,segala keburukan politik akan dihilangkan.Sedang yang muslim terpilih,pun terbukti tetap tak merujuk Quran dan Hadits.Pertanyaan yang menggayut: Politik kotor digunakan untuk tegakan Islam,bisakah?
Sumber : Khalifah
Hari ini umat Islam amalkan politik barat,politik sekuler untuk tegakan Islam.Praktek yang segala cara di halalkan.Ada fitnah,juga ghibah.Bukan lagi mencaci namun sudah mengatakan pihak lain tak pantas dipilih.Sambil mengusung dada mengatakan diri sebagai yang terbaik hingga layak dan memang pantas untuk tampil.Politik sekuler demokrasi ini penuh dengan kebohongan dan intrik.Saling sindir,saling ejek dan saling menjatuhkan.Rakyat jelata diserbu dengan serangan fajar’.Sedang pengusaha dan yang punya uang,diundang danai kampanye.Rakyat disuap untuk memilih.Kelas atas menyuap untuk memilih.Bedanya Cuma antara di dan me.Dalam kondisi ini pengusaha jahat pun sudah jadi pahlawan.Tak jelas mana lagi yang buruk dan yang baik,mana kawan dan mana lawan.Siapapun yang terpilih,mendisain negara berdasarkan konsep barat.Apalagi pihak asing juga diam-diam sudah memberi sinyal dan pesan.Politik kotor dan khianat terlanjur jadi lazim.Alasan tiada cara lain.Jika nanti menang,segala keburukan politik akan dihilangkan.Sedang yang muslim terpilih,pun terbukti tetap tak merujuk Quran dan Hadits.Pertanyaan yang menggayut: Politik kotor digunakan untuk tegakan Islam,bisakah?
Sumber : Khalifah
Pelukis Tanpa Tangan

Budayawan Emha Ainun Nadjib hampir selalu menolak saat ada pengemis meminta sedekah kepadanya.Bukannya pelit,tetapi,”Manusia kok mengemis.”ujarnya memberi alasan.Mungkin Emha benar,santunan yang bersifat charity(kedermawanan),bisa merendahkan martabat manusia.Karena saat mengemis jadi profes’,maka itu adalah pilihan manusia untuk tidak jadi mulia?sebab jelas,tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah.toh’dalam kenyataannya,banyak juga manusia,meskipun banyak kekurangannya,bahkan lebih parah dari pengemis dijalanan yang sehat-sehat dan normal secara fisik,namun mereka bertekad untuk tidak jadi pengemis.Mereka adalah teladan bagi siapapun yang merasa dirinya penuh kekurangan.Sebutlah Sadikin Pard.Pria kelahiran 29 oktober 1966,Malang,jawa timur terlahir dari rahim orang tua yang ekonominya kurang mampu.
Dasyatnya lagi,ia cacat!Sadikin lahir tanpa kedua tangan.Meskipun demikian,Sadikin masih beruntung karena orang tuanya membesarkan dirinya penuh dengan kasih sayang.Ayahnya yang buruh rendahan di kantor swasta dan ibunya usaha warung nasi,tak pernah membedakan perlakuan dirinya dengan anak-anak lainnya.Anak ke8 dari 9 bersaudara ini mendapat kasih sayang dan perhatian layaknya anak normal lainnya.Inilah yang mungkin membentuk pribadi Sadikin menjadi positif terhadap dirinya sendiri.Tuhan memang adil.Meski dirinya tak bertangan,Tuhan memberinya kelebihan lain.Sadikin sangat berbakat dalam hal melukis.”Di keluarga saya,tak satupun yang berbakat melukis seperti saya,”ujar Sadikin.Citra diri Sadikin menguat kala itu masih duduk di bangku SLTA karya lukisannya di atas media pelepah pisang dibeli oleh orang Belanda dan dibawa kenegaranya.Sejak itu ia merasa masa depan yang cerah siap menyambutnya.Ia melukis dan terus melukis.Hasil dari melukis,selain untuk membantu orang tua dan saudara-saudaranya,ia gunakan juga untuk sekolah sampai perguruan tinggi.Takdir mengantarnya bergabung dengan Association of Mouth&Foot Painting Artists(AMFPA).Pertemuan dengan AMFOA sewaktu masih kuliah semester 3.Saat itu Sadikin membaca dimedia cetak,”Pelukis Pakai Kaki Dapat Honor 300 Swis Franc/bulan dari AMFPA).Sadikin pun langsung pergi ke Jakarta,dimana AMFPA berkantor.Bulan september 1989 Sadikin resmi menjadi anggota AMFPA Indonesia.Dengan bimbingan dan bantuan pengurus AMFPA,Sadikin pun semakin mantap menjadikan lukisan sebagai jalan hidupnya.Ia mendapat honor bulanan rutin dari AMFPA.Dari honor itulah ia mampu menafkahi keluarganya,seorang istri dan dua anak lelakinya.”Besar harapan saya untuk menjadi pelukis ternama di AMFPA Indonesia ini,karena dengan begitu saya dapat hidup tanpa bantuan dan ketergantungan pada orang lain atau hidup mandiri,”ujar Sadikin.
7/17/2009
Abu Hurairah - Otaknya Gudang Pengetahuan (1)
Abu Hurairah, Bapak Kucing Kecil
Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah tiga hari setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam penanggalan Hijri), mengisi malam harinya dengan membaca Al-Quran dan salat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadis. Dialah Bapak Kucing Kecil (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya. Kenapa ia dikenal sebagai "Bapak Kucing"? Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi ibn Shakhr Ad-Dausi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar "Bapak Kucing".
Penghafal Hadits Terbesar Sepanjang Masa
Kadangkala kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan penghargaan.
Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka. Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan. Abu Hurairah r.a. mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam segi menghafal dan menyimpan. Didengarya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pemah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya.
Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw , hingga sering mereka mengeluarkan sebuah "hadits", dengan menggunakan kata-kata: -- "Berkata Abu Hurairah... "
Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.
Di sana Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya.
Setiap anda mendengar muballigh atau penceramah atau khatib Jum'at mengatakan kalimat yang mengesankan dari Abu Hurairah r.a berkata ia, telah bersabda Rasulullah saw.." Saya katakan ketika anda mendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fiqih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka diketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi, antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabdanya. Karena itulah perbendaharaannya yang menakjubkan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi saw jarang diperoleh bandingannya. Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah merupakan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari kehidupan Rasulullah saw beserta para sahabatnya dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang membuktikan kehebatan Muhammad saw beserta shahabat-shahabatnya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan pikiran sehat. Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut.
Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakannya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan.
Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan! Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata: "Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin. Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian. Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat.!"
Islamnya Abu Hurairah
Dibanding Nabi, umurnya lebih muda sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa miskin di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing.
Ia datang kepada Nabi saw di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan. Dan semenjak ia bertemu dengan Nabi Saw; dan berbai'at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur . Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: "Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pendengaran!'
Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.
Pahlawan perang dikalangan shahabat, banyak. Ahli fiqih, juru da'wah dan para guru juga tidak sedikit. Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya,jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementingkan tulis menulis. Dan tulis menulis itu belum Lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.
Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajnya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf, tak tahu tulis baca, padahal menurut ukuran masa itu, mereka memiIiki kecerdasan dan kemampuan besar.
Kembali kita pada pembicaraan bermula untuk melihat Abu Hurairah, bagaimana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.
Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempata atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak punya perniagaan yang akan diurus.
Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do'a Rasul "", agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.
Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian.
Abu Hurairah bukan tegolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalahseorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan. Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah hengan Rasul, baik dalam perjalanan maupun di kala menetap.
Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah saw dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul'Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan hadits-hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadits-hadits ini, kapan didengarya dan diendapkannya dalam ingatannya.
Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari putra shahabatnya, maka katanya: "Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan hadits dari Nabi saw. Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan hadits-hadits itu? Ketahuilah, bahwa shahabat-sahahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk degan tanah pertanian mereka. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen. Dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan.
Dan Nabi saw pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau: "Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarya dari padaku!"
Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya! Demi Allah kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat) !"
Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw. Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.
Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat. Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya!
Oleh sebab itulah ia harus saja memberitakan, tak suatupun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya, hingga pada suatu hari Amirul Mu'minin Umar berkata kepadanya: "Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka akan kukembalikan kau ke tanah Daus. !" (yaitu tanah kaum dan keluarganya).
Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali Al-Quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran.
Al-Quran adalah kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah saw teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya Nabi saw, saat sedang dihimpunnya Al-Quran, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan campur-baur yang tidak berguna dan tak perlu terjadi!
Oleh karena ini, Umar berpesan: "Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran karena dia adalah kalam Allah." Dan katanya lagi: "Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!"
Dan sewaktu beliau mngutus Abu Musa al-Asy'ari ke Irak ia berpesan kepadanya: "Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan Al-Quran seperti suara lebah. maka biarkanlah seperti itu dan jangan anda bimbangkan mereka dengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini!"
Al-Qur'an sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dirembesi oleh hal-hal lainnya. Adapun hadits, maka Umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah SAW dan merugikan Agama Islam.
Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.
Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pernah didengar dan ditangkapnya tetap saja disampaikan dan dikatakannya.
Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan Hadits-hadits dari Rasul saw dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka'ab al-Ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.
Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali dan dimintanya membacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau sepatah kata pun!
Ia berkata tentang dirinya, -- "Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak." Dan Imam Syafi'i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: -- "la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits sesamanya." Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: --"Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi'in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah."
Demikianlah Abu Hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya.
Abu Hurairah termasuk orang ahli ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula-mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya. Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat!
Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah tiga hari setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam penanggalan Hijri), mengisi malam harinya dengan membaca Al-Quran dan salat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadis. Dialah Bapak Kucing Kecil (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya. Kenapa ia dikenal sebagai "Bapak Kucing"? Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi ibn Shakhr Ad-Dausi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar "Bapak Kucing".
Penghafal Hadits Terbesar Sepanjang Masa
Kadangkala kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan penghargaan.
Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka. Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan. Abu Hurairah r.a. mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam segi menghafal dan menyimpan. Didengarya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pemah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya.
Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw , hingga sering mereka mengeluarkan sebuah "hadits", dengan menggunakan kata-kata: -- "Berkata Abu Hurairah... "
Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.
Di sana Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya.
Setiap anda mendengar muballigh atau penceramah atau khatib Jum'at mengatakan kalimat yang mengesankan dari Abu Hurairah r.a berkata ia, telah bersabda Rasulullah saw.." Saya katakan ketika anda mendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fiqih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka diketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi, antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabdanya. Karena itulah perbendaharaannya yang menakjubkan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi saw jarang diperoleh bandingannya. Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah merupakan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari kehidupan Rasulullah saw beserta para sahabatnya dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang membuktikan kehebatan Muhammad saw beserta shahabat-shahabatnya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan pikiran sehat. Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut.
Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakannya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan.
Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan! Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata: "Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin. Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian. Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat.!"
Islamnya Abu Hurairah
Dibanding Nabi, umurnya lebih muda sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa miskin di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing.
Ia datang kepada Nabi saw di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan. Dan semenjak ia bertemu dengan Nabi Saw; dan berbai'at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur . Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: "Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pendengaran!'
Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.
Pahlawan perang dikalangan shahabat, banyak. Ahli fiqih, juru da'wah dan para guru juga tidak sedikit. Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya,jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementingkan tulis menulis. Dan tulis menulis itu belum Lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.
Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajnya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf, tak tahu tulis baca, padahal menurut ukuran masa itu, mereka memiIiki kecerdasan dan kemampuan besar.
Kembali kita pada pembicaraan bermula untuk melihat Abu Hurairah, bagaimana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.
Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempata atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak punya perniagaan yang akan diurus.
Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do'a Rasul "", agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.
Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian.
Abu Hurairah bukan tegolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalahseorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan. Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah hengan Rasul, baik dalam perjalanan maupun di kala menetap.
Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah saw dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul'Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan hadits-hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadits-hadits ini, kapan didengarya dan diendapkannya dalam ingatannya.
Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari putra shahabatnya, maka katanya: "Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan hadits dari Nabi saw. Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan hadits-hadits itu? Ketahuilah, bahwa shahabat-sahahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk degan tanah pertanian mereka. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen. Dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan.
Dan Nabi saw pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau: "Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarya dari padaku!"
Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya! Demi Allah kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat) !"
Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw. Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.
Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat. Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya!
Oleh sebab itulah ia harus saja memberitakan, tak suatupun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya, hingga pada suatu hari Amirul Mu'minin Umar berkata kepadanya: "Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka akan kukembalikan kau ke tanah Daus. !" (yaitu tanah kaum dan keluarganya).
Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali Al-Quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran.
Al-Quran adalah kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah saw teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya Nabi saw, saat sedang dihimpunnya Al-Quran, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan campur-baur yang tidak berguna dan tak perlu terjadi!
Oleh karena ini, Umar berpesan: "Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran karena dia adalah kalam Allah." Dan katanya lagi: "Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!"
Dan sewaktu beliau mngutus Abu Musa al-Asy'ari ke Irak ia berpesan kepadanya: "Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan Al-Quran seperti suara lebah. maka biarkanlah seperti itu dan jangan anda bimbangkan mereka dengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini!"
Al-Qur'an sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dirembesi oleh hal-hal lainnya. Adapun hadits, maka Umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah SAW dan merugikan Agama Islam.
Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.
Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pernah didengar dan ditangkapnya tetap saja disampaikan dan dikatakannya.
Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan Hadits-hadits dari Rasul saw dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka'ab al-Ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.
Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali dan dimintanya membacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau sepatah kata pun!
Ia berkata tentang dirinya, -- "Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak." Dan Imam Syafi'i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: -- "la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits sesamanya." Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: --"Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi'in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah."
Demikianlah Abu Hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya.
Abu Hurairah termasuk orang ahli ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula-mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya. Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat!
Abu Dzar Al-Ghifari - Sahabat dari Ghifar
Abu Dzar al-Ghifari merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuannya dan kesholehannya. Ali RA berkata mengenai Abu Dzar RA: "Abu Dzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari orang lain."
Ketika dia mulai mendengar khabar tentang kerasulan Nabi SAW, dia telah mengutus saudara lelakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai orang yang mengaku menerima berita dari langit. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad SAW itu seorang yang sopan santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibacakan kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.
Laporan yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataan. Setibanya di Makkah, dia terus ke Baitul Haram. Pada waktu itu dia tidak kenal Nabi SAW, dan melihat keadaan pada waktu itu dia merasa takut hendak bertanya mengenai Nabi SAW. Ketika menjelang malam, dia dilihat oleh Ali RA. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawa Abu Dzar ke rumahnya dan melayani Abu Dzar sebaik-baiknya sebagai tamu. Ali tidak bertanya apapun dan Abu Dzar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah. Pada keesokkan harinya, Abu Dzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abu Dzar gagal menemui Nabi karena pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang-orang kafir musyrikin. Pada malam yang keduanya, Ali membawa Abu Dzar ke rumahnya.
Pada malam itu Ali bertanya: "Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?"
Sebelum menjawab Abu Dzar meminta Ali berjanji untuk berkata benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi SAW. Ali berkata: "Sesungguhnya dialah pesuruh Allah. Esok engkau ikut aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan esok, kalau aku dapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh sedikit dari kamu dan berpura-pura membetulkan sepatuku. Tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak curiga hubungan kita."
Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abu Dzar bertemu dengan Nabi SAW. Tanpa banyak tanya jawab, dia telah memeluk agama Islam. Karena takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi SAW menasehatkan supaya cepat-cepat balik dan jangan mengabarkan keislamannya di khalayak ramai. Tetapi Abu Dzar menjawab dengan berani: "Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku di dalam tanganNya, bahwa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan kafir-kafir musyrikin itu."
Janjinya kepada Rasulullah SAW ditepatinya. Selepas ia meninggalkan baginda, dia mengarah langkah kakinya ke Baitul Haram di hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah.
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu pesuruh Allah."
Tatkala mendengar ucapan Abu Dzar itu, orang-orang kafir pun menyerbunya lalu memukulnya. Kalau tidak karena Abbas, paman Nabi yang ketika itu belum Islam, tentulah Abu Dzar menemui ajalnya di situ.
Kata Abbas kepada orang-orang kafir musyrikin yang menyerang Abu Dzar: "Tahukah kamu siapa orang ini? Dia adalah turunan Al Ghifar. Khafilah-khafilah kita yang pulang pergi ke Syam terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, sudah tentu mereka menghalangi perniagaan kita dengan Syam."
Pada hari berikutnya, Abu Dzar sekali lagi mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan orang-orang kafir Quraisy dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.
Kegairahan Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan kafir Quraisy sungguh-sungguh luar biasa jika dikaji dalam konteks larangan Nabi SAW kepadanya. Apakah dia bisa dituduh telah mengingkari perintah Nabi? Jawabannya tidak. Dia tahu bahwa Nabi SAW sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya ke arah menyebarkan agama Islam. Dia hanya hendak menunjukkan Nabi SAW walaupun ia mengetahui, dengan berbuat demikian dia melibatkan dirinya dalam bahaya. Semangat keislamannya yang beginilah yang telah menjadikan para sahabat mencapai puncak keimanan dalam alam lahiriyah serta batiniyah.
Keberanian Abu Dzar ini selayaknya menjadi contoh kepada umat Islam dewasa ini dalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiyah. Kekejaman, penganiyaan serta penindasan tidak semestinya bisa melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah.
Ketika dia mulai mendengar khabar tentang kerasulan Nabi SAW, dia telah mengutus saudara lelakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai orang yang mengaku menerima berita dari langit. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad SAW itu seorang yang sopan santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibacakan kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.
Laporan yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataan. Setibanya di Makkah, dia terus ke Baitul Haram. Pada waktu itu dia tidak kenal Nabi SAW, dan melihat keadaan pada waktu itu dia merasa takut hendak bertanya mengenai Nabi SAW. Ketika menjelang malam, dia dilihat oleh Ali RA. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawa Abu Dzar ke rumahnya dan melayani Abu Dzar sebaik-baiknya sebagai tamu. Ali tidak bertanya apapun dan Abu Dzar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah. Pada keesokkan harinya, Abu Dzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abu Dzar gagal menemui Nabi karena pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang-orang kafir musyrikin. Pada malam yang keduanya, Ali membawa Abu Dzar ke rumahnya.
Pada malam itu Ali bertanya: "Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?"
Sebelum menjawab Abu Dzar meminta Ali berjanji untuk berkata benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi SAW. Ali berkata: "Sesungguhnya dialah pesuruh Allah. Esok engkau ikut aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan esok, kalau aku dapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh sedikit dari kamu dan berpura-pura membetulkan sepatuku. Tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak curiga hubungan kita."
Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abu Dzar bertemu dengan Nabi SAW. Tanpa banyak tanya jawab, dia telah memeluk agama Islam. Karena takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi SAW menasehatkan supaya cepat-cepat balik dan jangan mengabarkan keislamannya di khalayak ramai. Tetapi Abu Dzar menjawab dengan berani: "Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku di dalam tanganNya, bahwa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan kafir-kafir musyrikin itu."
Janjinya kepada Rasulullah SAW ditepatinya. Selepas ia meninggalkan baginda, dia mengarah langkah kakinya ke Baitul Haram di hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah.
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu pesuruh Allah."
Tatkala mendengar ucapan Abu Dzar itu, orang-orang kafir pun menyerbunya lalu memukulnya. Kalau tidak karena Abbas, paman Nabi yang ketika itu belum Islam, tentulah Abu Dzar menemui ajalnya di situ.
Kata Abbas kepada orang-orang kafir musyrikin yang menyerang Abu Dzar: "Tahukah kamu siapa orang ini? Dia adalah turunan Al Ghifar. Khafilah-khafilah kita yang pulang pergi ke Syam terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, sudah tentu mereka menghalangi perniagaan kita dengan Syam."
Pada hari berikutnya, Abu Dzar sekali lagi mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan orang-orang kafir Quraisy dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.
Kegairahan Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan kafir Quraisy sungguh-sungguh luar biasa jika dikaji dalam konteks larangan Nabi SAW kepadanya. Apakah dia bisa dituduh telah mengingkari perintah Nabi? Jawabannya tidak. Dia tahu bahwa Nabi SAW sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya ke arah menyebarkan agama Islam. Dia hanya hendak menunjukkan Nabi SAW walaupun ia mengetahui, dengan berbuat demikian dia melibatkan dirinya dalam bahaya. Semangat keislamannya yang beginilah yang telah menjadikan para sahabat mencapai puncak keimanan dalam alam lahiriyah serta batiniyah.
Keberanian Abu Dzar ini selayaknya menjadi contoh kepada umat Islam dewasa ini dalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiyah. Kekejaman, penganiyaan serta penindasan tidak semestinya bisa melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah.
Abdurrahman Bin 'Auf - Saudagar yang Dijamin Surga

Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempat ketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Angin yang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.
Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.
Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu.
Ummul Mu'minin Aisyah ra demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya, "Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?" Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin 'Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya. Kata Ummul Mu'minin lagi, "Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?" "Benar, ya Ummal Mu'minin, karena ada 700 kendaraan!" Ummul Mu'minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.
Kemudian katanya, "Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Kulihat Abdurrahman bin 'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!'"
Abdurrahman bin 'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yangberbeda-beda.
Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya, ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lalu berkata kepadanya, "Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya." Kemudian ulasnya lagi, "Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah 'azza wajalla!" Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang sangat besar.
Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin 'Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah. Dialah seorang Mu'min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh karena keuntungan agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah ra yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidak terkira, dengan hati yang puas dan rela.
Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing. Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da'wah, yakni sebelum Rasulullah saw memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang-orang Mu'min.
Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Maka tak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu-raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui Rasulullah saw menyatakan bai'at dan memikul bendera Islam.
Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur 75 tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang mu'min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi saw memasukkannya dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.
Dan Umar ra mengangkatnya pula sebagai anggota kelompok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya, "Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!"
Segeralah Abdurrahman masuk Islam menyebabkannya menceritakan nasib malang berupa penganiayaan dan penindasan dari Quraisy. Dan sewaktu Nabi saw, memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Habsyi, Ibnu 'Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habsyi dan kemudian hijrah ke Madinah, ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya.
Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga katanya, "Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak!"
Perniagaan bagi Abdurrahman bin 'Auf ra bukan berarti rakus dan loba. Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya.
Dan Abdurrahman bin 'Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia di mana juga adanya. Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad dalam mempertahankan agama tentulah ia sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan.
Dan watak dinamisnya ini terlihat sangat menonjol, ketika kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Telah menjadi kebiasaan Rasul pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari Muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah.
Persaudaraan ini mencapai kesempurnaannya dengan cara yang harmonis yang mempesonakan hati. Orang-orang Anshar penduduk Madinah membagi dua seluruh kekayaan miliknya dengan saudaranya orang muhajirin, sampai-sampai soal rumah tangga. Apabila ia beristeri dua orang diceraikannya yang seorang untuk diperisteri saudaranya.
Ketika itu Rasul yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin 'Auf dengan Sa'ad bin Rabi'. Dan marilah kita dengarkan shahabat yang mulia Anas bin Malik ra meriwayatkan kepada kita apa yang terjadi "... dan berkatalah Sa'ad kepada Abdurrahman, 'Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperisterinya.'
Jawab Abdurrahman bin 'Auf, 'Moga-moga Allah memberkati anda, isteri dan harta anda! Tunjukkanlah saja letaknya pasar agar aku dapat berniaga!' Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjual belilah di sana. Ia pun beroleh keuntungan."
Kehidupan Abdurrahman bin 'Auf di Madinah baik semasa Rasulullah saw maupun sesudah wafatnya terus meningkat. Barang apa saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok perniagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridla Allah semata, sebagai bekal di alam baqa kelak.
Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang syubhat. Seterusnya yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkat, karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri, tapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya, pula digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam.
Bila jumlah modal niaga dan harta kekayaan yang lainnya ditambah keuntungannya yang diperolehnya, maka jumlah kekayaan Abdurrahman bin 'Auf itu dapat dikira-kirakan apabila kita memperhatikan nilai dan jumlah yang dibelanjakannya pada jalan Allah Rabbul'alamin!
Pada suatu hati ia mendengar Rasulullah saw bersabda, "Wahai ibnu 'Auf! Anda termasuk golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan! Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda!"
Semenjak ia mendengar nasihat Rasulullah ini dan ia menyediakan bagi Allah pinjaman yang balk, maka Allah pun memberi ganjaran kepadanya dengan berlipat ganda.
Di suatu hari ia menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para isteri Nabi dan untuk kaum fakir miskin.
Diserahkannya pada suatu hari 500 ekor kuda untuk perlengkapan bala tentara Islam, dan di hari yang lain 1500 kendaraan. Menjelang wafatnya ia berwasiat 50.000 dinar untuk jalan Allah, lain diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing 400 dinar, hingga Utsman bin Affan ra yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiat itu, serta katanya, "Harta Abdurrahman bin 'Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah."
Ibnu 'Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkannya dan tidak pula dengan menyimpannya. Bahkan ia mengumpulkannya secara santai dan dari jalan yang halal. Kemudian ia tidak menikmati sendirian, tapi ikut menikmatinya bersama keluarga dan kaum kerabatnya serta saudara-saudaranya dan masyarakat seluruhnya. Dan karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, pernah dikatakan orang, "Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin 'Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar hutang-hutang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikannya kepada mereka."
Harta kekayaan ini tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya, selama tidak memungkinkannya untuk membela agama dan membantu kawan-kawannya. Adapun untuk lainnya, ia selalu takut dan ragu.
Pada suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, karena waktu itu ia sedang shaum. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya, tetapi iapun menangis sambil mengeluh, "Mushab bin Umair telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya! Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahdukan pahala kebaikan kami!"
Pada suatu peristiwa lain sebagian sahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis; karena itu mereka bertanya, "Apa sebabnya anda menangis wahai Abu Muhammad?" Ujarnya, "Rasulullah saw telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita?"
Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikitpun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya! Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya, "Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka!"
Tetapi bila orang asing itu mengenal satu segi saja dari perjuangan ibnu 'Auf dan jasa-jasanya, misalnya diketahuinya bahwa di badannya terdapat dua puluh bekas luka di perang Uhud, dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacad pincang yang tidak sembuh-sembuh pada salah satu kakinya, sebagaimana pula beberapa gigi seri rontok di perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapan dan pembicaraannya. Di waktu itulah orang baru akan menyadari bahwa laki-laki yang berperawakan tinggi dengan air muka berseri dan kulit halus, pincang serta cadel, sebagai tanda jasa dari perang Uhud, itulah orang yang bernama Abdurrahman bin 'Auf! Semoga Allah ridla kepadanya dan ia pun ridla kepada Allah!
Sudah menjadi kebiasaan pada tabi'at manusia bahwa harta kekayaan mengundang kekuasaan, artinya bahwa orang-orang kaya selalu gandrung untuk memiliki pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipat gandakannya, dan untuk memuaskan nafsu, sombong, membanggakan dan mementingkan diri sendiri, yakni sifat-sifat yang biasa dibangkitkan oleh kekayaan.
Tetapi bila kita melihat Abdurrahman bin 'Auf dengan kekayaannya yang melimpah ini, kita akan menemukan manusia ajaib yang sanggup menguasai tabi'at kemanusiaan dalam bidang ini dan melangkahinya ke puncak ketinggian yang unik.
Peristiwa ini terjadi sewaktu Umar bin Khatthab hendak berpisah dengan ruhnya yang suci dan ia memilih enam orang tokoh dari para shahabat Rasulullah saw sebagai formatur agar mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang baru.
Jari-jari tangan sama-sama menunjuk dan mengisyaratkan Ibnu 'Auf. Bahkan sebagian shahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak dengan khalifah di antara yang enam itu, maka ujarnya, "Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, lebih baik ambil pisau lain taruh ke atas leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus ke sebelah!"
Demikianlah, baru saja kelompok enam formatur itu mengadakan pertemuan untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang akan menggantikan al-Faruk, Umar bin Khatthab maka kepada kawan-kawannya yang lima dinyatakannya bahwa ia telah melepaskan haknya yang dilimpahkan Umar kepadanya sebagai salah seorang dari enam orang calon yang akan dipilih menjadi khalifah. Dan adalah kewajiban mereka untuk melakukan pemilihan itu terbatas di antara mereka yang berlima saja.
Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin 'Auf menetapkan pilihan khalifah itu terhadap salah seorang di antara mereka yang berlima, sementara Imam Ali mengatakan, "Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, bahwa anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi!"
Oleh Ibnu 'Auf dipilihlah Utsman bin Affan untuk jabatan khalifah dan yang lain pun menyetujui pilihannya.
Nah, inilah hakikat seorang laki-laki yang kaya raya dalam Islam! Apakah sudah anda perhatikan bagaimana Islam telah mengangkat dirinya jauh di atas kekayaan dengan segala godaan dan penyesatannya itu, dan bagaimana ia menempa kepribadiannya dengan sebaik-baiknya?
Dan pada tahun 32 Hijrah, tubuhnya berpisah dengan ruhnya. Ummul Mu'minin Aisyah ingin memberinya kemuliaan khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain, maka diusulkannya kepadanya sewaktu ia masih terbaring di ranjang menuju kematian, agar ia bersedia dikuburkan di pekarangan rumahnya berdekatan dengan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar.
Akan tetapi ia memang seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, ia merasa malu diangkat dirinya pada kedudukan tersebut!
Pula dahulu ia telah membuat janji dan ikrar yang kuat dengan Utsman bin Madh'un, yakni bila salah seorang di antara mereka meninggal sesudah yang lain maka hendaklah ia dikuburkan di dekat shahabatnya itu.
Selagi ruhnya bersiap-siap memulai perjalanannya yang baru, air matanya meleleh sedang lidahnya bergerak-gerak mengucapkan kata-kata, "Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari sahabat-sahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah!"
Tetapi sakinah dari Allah segera menyelimutinya, lain satu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan suka cita yang memberi cahaya serta kebahagiaan yang menenteramkan jiwa. Ia memasang telinganya untuk menangkap sesuatu, seolah-olah ada suara yang lernbut merdu yang datang mendekat.
Ia sedang mengenangkan kebenaran sabda Rasulullah saw yang pernah beliau ucapkan, "Abdurrahman bin 'Auf dalam surga!", lagi pula ia sedang mengingat-ingat janji Allah dalam kitab-Nya, "Orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafqahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannnya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, niscaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka; Mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula berdukacita." (QS Al-Baqarah [2]:262)
Sumber : Buku Rijal Haular Rasul (Khalid Muh.Khalid)
Abdullah Ibnu Rawahah - Penyair dan Panglima Islam

Waktu itu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari dua belas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar (penolong Rasul). Mereka sedang dibai'at Rasul (diambil janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai'ah Al-Aqabah Al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyi'ar IsIam pertama ke kota Madinah, dan bai'at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam. Maka salah seorang dari utusan yang dibai'at Nabi itu, adalah Abdullah bin Rawahah.
Dan pada tahun berikutnya, Rasulullah saw membai'at lagi tujuh puluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai'at 'Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai'at itu.
Kemudian sesudah Rasullullah bersama shahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap di sana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam membela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagallah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat di patahkan.
Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka degan kepandaian tulis baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar.
Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.
Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?"
Jawab Abdullah, "Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan." Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas:
"Wahai putera Hasyim yang baik,
Sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia,
Dan memberimu keutamaan,
Di mana orang tak usah iri.
Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu, Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.
Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka, Dan memecahkan persoalan , Tiadalah mereka hendak menjawab atau membela.
Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda bawa, Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa."
Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya, "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah."
Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada 'umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka beliau sambil membaca syair dari rajaznya:
"Oh Tuhan,
Kalaulah tidak karena Engkau,
Niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk,
Tidak akan bersedeqah dan Shalat!
Maka mohon diturunkan sakinah atas kami, Dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.
Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, Bila mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang."
Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah.
Penyair Rawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat al-Quranul Karim yang artinya, "Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat." (QS Asy-Syu'ara: 224). Tetapi kedukaan hatinya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya, "Kecuali orang-orang(penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya." (QS Asy-Syu'ara: 227)
Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan, "Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!"
Ia juga menyorakkan teriakan perang, "Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu setiap kebaikan akan ditemui pada Rasulnya."
Dan datanglah waktunya perang Muktah. Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukkan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya:
"Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman,
Keampunan dan kemenangan di medan perang,
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan,
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan,
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan,
Mati syahid di medan perang!"
Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang, pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia!
Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang Muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar dua ratus ribu orang! Karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya!
Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam dan sebagian ada yang menyeletuk berkata, "Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi."
Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap, "Kawan-kawan sekalian! Demi Ailah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah. Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah! Ayohlah kita maju! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah!"
Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: "Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah!"
Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya. Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.
Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja'far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kanannya Ja'far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara pasukan-pasukan Romawi yang datang membajir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.
Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara Romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:
"Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga,
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga...
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati,
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti...
Tibalah waktunya apa yng engkau idam-idamkan selama ini,
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati!
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja'far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada)
Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati!"
Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalanannya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid.
Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya, "Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku, 'Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!'" "Benar engkau, ya Ibnu Rawahah! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah!"
Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa' di Syam, Rasulullah saw sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka dan belas kasihan. Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata, "Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid... Kemudian diambil alih oleh Ja'far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula..." Beliau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya, "Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya iapun syahid pula."
Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula, "Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga."
Perjalanan manalagi yang lebih mulia …
Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …
Mereka maju ke medan laga bersama-sama …
Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula …
Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi, "Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga……"
Sumber : Buku Rijal Haular Rasul (Khalid Muh.Khalid)
Risalah

Pada umumnya,manusia mencintai manusia maka mereka biasanya tak hendak pergi jauh dari yang di cintainya.Namun tidak demikian dengan para sahabat Nabi.Para sahabat Nabi adalah orang” yang sangat mencintai Nabi,namun jika kita menggali kisah dan akhir hidup mereka,banyak dari para sahabat yang justru meninggal di luar kota Madinah,bahkan jauh dari jazirah Arabia.Para sahabat mencintai Rosullullah dengan cara menyebarkan risalah.Mereka menginginkan lebih banyak manusia yang juga turun mencintai dan mendapat keberkahan dengan mencintai Rosullullah.Itulah tanda dan bukti kecintaan para sahabat kepada Rosullullah.Amr bin Ash misalnya,makamnya bisa di temui di tengah kota Istanbul,Tuski menyeberang lautan dan berpindah benua.Abu Ayyub al-Anshari,nama lain dari sahabat Khalid bin Zaid,juga meninggal di Istanbul.Saad bin Abi Waaqash,makamnya di sudut wilayah Cina.Ada juga tokoh seperti Abu Dzar al-Ghifari,yang memiliki pekerjaan tetap sebagai pengembara.Bukan sembarang pengembara,tapi pengembara yang selalu membawa peringatan bagi yang lupa.Sepeninggal Rosullullah saw di bawah khalifah”yang meneruskan kekuasaan,Islam berkembang sangat pesat dan mengelola wilayah yang sangat besar.Gubernur”di utus dan disebar.Maka tugas Abu Dzaradalah mengingatkan para penguasa agar tidak berlebihan.
Sumber” literatur Cina menyebutkan,menjelang seperempat abad ke 7 sudah berdiri perkampungan Arab muslim di pesisir pantai Sumatera.Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan cina pernah mendapatkan kunjungan diplomatik dari orang” Ta Shih,sebutan untuk orang Arab,pada tahun 651 M atau 31H.Empat tahun kemudian,dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni”.Tan mi mo ni adalah sebutan untuk Amirul Mukminin.Dalam catatan tersebut,duta Tan mi mo ni’menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan.Artinya,duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam mengungkapkan,pada tahun 674 sampai 675 M duta dari orang” Ta Shih(Arab)untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rosullullah sendiri Muawiyah bin Abu Sufyan.Bahkan mereka di teruskan sampai ke pulau jawa.Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini melakukan observasi di tanah jawa.Ekspedisi ini mendatangi kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan.Tradisi pengembaraan dalam islam terus berlangsung dan di wariskan dari generasi ke generasi.Kian tahun,kian bertambah duta” dari timur tengah yang datang dari Nusantara.Pada massa Dinasti Umayyah,ada sebanyak 17 duta muslim datang ke Cina.Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negara Cina.Bahkan pada pertengahan abad ke 7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.Tanpa pengembara”agung dalam sejarah Islam tentu sejarah akan berjalan lain dan mungkin tidak seperti hari ini.Hutang kaum muslimin kepada para pengembara dan penjelajah dalam dunia islam demikian besar,tak ada cara yang bisa dilakukan untuk membalasnya.Satu satunya cara adalah meneruskan dakwah yang telah diretas oleh para pendahulu dan penghulu dakwah.Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan dari seluruh yang mereka kerjakan dan dari seluruh yang mereka wariskan.
Hijrah 1

Hijrah dalam kamus” bahasa arab berakar pada huruf ha-ja-ra,yang berarti pisa,pindah dari satu negri ke negri lain.Namun dalam terminologi islam,hijrah sering di artikan dengan meninggalkan negri yang tidak aman menuju negri yang aman demi keselamatan dalam menjalankan agama.Dalam sejarah perjalanan dakwah,hampir semua para nabi,khususnya ulul azmi,pernah melakukan hijrah.Hijrah secarah fsik yang dikenal dalam islam,hijrah sebagian sahabat,yang terbanyak dari kalangan hus tad’afin(orang” yang lemah secara politik&ekonomi),ke negri Habasyah sebanyak dua kali.Sikap permusuhan orang-ornag quraisy yang semula berbentuk cemoohan dan serangan-serangan verbal lainnya berkembang dan meningkat menjadi pengejaran dan penganiyaan secara kasar dan keras.ketika melihat kondisi di Mekkah semakin memburuk,Nabi Muhammad saw mengizinkan sebagian pengikutnya untuk mencari keamanan di negri Abssinia (Ethiopia)yang penduduknya beragama nasrani,rajaunya bernama Najasyi(negus)yang dikenal adil dan bijak.Kematian istri Rosullullah Khadijah dan pamannya Abi talib pada saat yang hampir bersamaan,yakni tahun ke-10 dari kenabian,membuat kehidupan dan ruang geraknya menjadi semakin sempit,sehingga tahun itu dikenal sebagai tahun ‘Am al-Huzn(tahun duka cita).Kelapangan diharapkan datang dari negri Ta’if(kurang lebih 65km dari Mekkah)yang dipimpin oleh kerabatnya dari bani saqif.Akan tetapi ketika Rosullullah berkunjung kenegri itu,penduduknya melemparinya dengan batu yang membuat Rosullullah terluka yang ketika itu disertai oleh Zaid bin Haritsah memutuskan untuk kembali ke Mekkah setelah mendapat jaminan dari Mut’im bin Adi.
Peristiwa Isra dan Mi’raj telah memberikan penawar hati bagi Rosullullah.Segala penderitaan yang diterima dari kaumnya bukan karena Allah SWT meninggalkan atau memurkainya,tetapi merupakan sunnatullah,yaitu sunnah dakwah islamiyah bagi orang” yang mencintai dan dicinta Allah SWT.Peristiwa ini,disamping menjadi ujian keimanan bagi para pengikitnya,juga sekaligus mengandung mandat baginya untuk melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinnah.Ketika orang” kafir mendengar berita tentang kemungkinan hijrahnya Nabi saw,mereka segera menyusun rencana untuk membunuh Rosullullah.Akan tetapi,Rosullullah telah mendapat wahyu(QS 8:30).Peristiwa yang lainya adalah kesepakatan para pemuka quraisy untuk menghabisi kaum muslimin dan Rosullullah saw diDarun Nadwah.Namun kesepakatan ini di ketahui Rosullullah saw melalui wahyu yang turun kepadanya.”Dan(ingatlah),ketika orang-orang kafir(Quraisy)memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu.Mereka memikirka tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya(QS al-Anfal:30)
Rosullullah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah setelah turunnya ayat ini.para sahabat mulai meninggalkan Mekkah secara bergelombang.Rosulullah sendiri adalah orang terakhir pergi ke Madinah.Rosullullah saw menyiapkan hijrah ini secara matang.Sebab target utama kaum musyrik Mekkah adalah menggagalkan hijra kaum muslimin.Rosullullah saw meminta abu Bakar ash-Shiddiq menemaninya,dan seorang pemandu jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqit untuk hijrah.Rosullullah saw meninggalkan rumah pada malam hari tangal 27 bulan shafar tahun ke 13 kenabian atau bertepatan dengan tanggal 12 atau 13 september tahun 622M.Perjalanan awal keluar Mekkah justru menempuh jalan yang berlawanan dengan jalan menuju Madinah.Hal ini dimaksudkan untuk mengecoh para pengejar.
Hijrah 2

Gua Tsur adalah tempat tujuan mereka,tetapi keberadaan Rosullullah dan Abu Bakar di dalam gua tidak diketahui mereka.Sesuai dengan rencana yang telah di atur oleh para pemimpin Quraisy dalam pertemuan diDarun Nadwah,para kepala suku di haruskan berpartisipasi dalam pembunuhan Rosullullah saw,agar bani Hasyim tidak mampu melawan mereka semua.Pada saat yang telah di tentukan,mereka mengelilingi rumah Rosullullah saw dan menunggu sampai Beliau keluar.Akan tetapi,Rosullullah saw telah mendapat informasi tentang bahaya itu dan telah di perintahkan untuk berjaga jaga pada malam itu dan selanjutnya berhijrah ke Yastrib.Maka Rosullullah memberikan kepercayaan kepada Ali bin Abi Talib untuk menempati tempat tidur Beliau,kemudia Ali ra dengan menyerahkan seluruh hidupnya demi islamsegera melompat ke tempat tidur.Setelah mengatus segalanya,Rosullullah saw keluar dari rumah seraya membaca surah Yaasin.Ini adalah bukti keimanan yang dalam kepada Allah SWT dan keberanian yang luar biasa,yang di pertunjukan olehnya ketika meningalkan rumah melalui kerumunan orang” yang haus darah.Allah SWT telah membuat mata mereka tidak melihat,sekalipun mereka berjaga jaga sepanjang malam.Sesampai di Madinah pekerjaan yang pertama dilakukan Rosullullah saw adalah membangun landasan”utama bagi terbentuknya masyarakat(negara)yang baru.
1.membangun masjid sebagai pusat kegiatan ibadah,pusat pemerintahan,dll.
2.Mempersaudarakan seluruh kaum muslimin,khususnya antara orang” yang hijrah dari Mekkah ke Madinah(Muhajirin),dan orang” muslim penduduk asli Madinah yang menolong perjuanga islam(Anshar)
3.Menyusun dustur(UUD) yang mengatur kehidupan kaum muslimin dan menjelaskan hubungan mereka dengan kaum lainnya,khususnya dengan kaum yahudi.
Rosullullah saw di kota Yastrib ternyata membawa perubahan yang sangat besar bagi perkembangan islam.Paling tidak beliau berhasil menjadi juru damai bagi dua suku asli penduduk Yastrib,yaitu Aus dan Khazraj.Rosullullah saw menyatukan,mempersaudarakan,dan mendamaikan mereka dengan ikatan iman dan islam serta persaudaraan islamiyah.Sehinggah terhapuslah di hati mereka militansi,kesukuan yang sempit.Tak lama kemudian,kaum Muhajirin mampu menggeser dominasi ekonomi dan perdagangan kaum yahudi.Dengan demikian hijrah menandai berakhirnya masa pra islam yang di sebut masa jahiliyah,serta merupakan titik balik bagi keberuntungan Nabi dan babak baru dalam sejarah pergerakan islam.Dengan berdirinya sebuah masyarakat(negara)islam di Madinah,islam kini mencapai keluhuran dan keagungan dengan dimensi yang tak terduga sebelumnya.Hijrah Rosulullah saw inilah yang menjadi tauladan bagi pengembara muslim berikutnya.Sehingga terbukalah(futuhat)rahmat Allah dimana tanah di pijak.Saad Abi Waqqash,Muhammad al-Fath,Imam Mazhab yang empat,Wali songo,Syekh Ahmad Kahtib Al Minagkabaui,Ibnu Batutah dst.Itulah hijrah yang di terima,yang dilaksanaka karena ketaatan kepada Allah dan Rosulnya,bukan karena dunia,ingin terkenal atau karena sombong.Bukan pula tertarik pada perempuan atau mengikuti dorongan nafsu syahwat.Ia adalah hijrah karena Allah.”Barang siapa berhijrah di jalan Allah,niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas and rezeki yang banyak.Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RosulNya,kemudian kematian menimpanya(sebelum sampai ketempat yang di tuju),maka sungguh tetap pahalanya di sisi Allah.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Qs an-Nisa:100)
Langganan:
Komentar (Atom)

