
Kenapa harus Manohara?
Ga ada yang salah dengan manohara,yang agak agak kurang adil adalah,kenapa mata kita semua tertuju ke sosok Manohara?dan seakan melupakan nasib warga negara Indonesia yang lainnya.
Bberapa minggu yang lalu diberitakan juga tiga orang tenaga kerja wanita,yang adalah,sekali lagi sama sama warga Indonesia,mengalami perlakuan kebih buruk.
Dua tahun tidak dibayar gajinya,diperkosa,disiksa,dan kekejaman dengan ancaman senjata.Mereka melapor ke polisi setempat di Malysia.Bagaimana kisah ketiga perempuan ”non-Manohara”ini kita tidak akan tahu.Kalau media tidak menelusuri.
Inilah yang terasa janggal,terasa ada yang mengganjal.Hal yang sama dalam perbandingan,ketika-untunglaj para petinggi,juga para peduli mempersoalkan seorang gadis belasan tahun yang disunting ”orang kaya tua”.
Semua pemerhati hak anak,hak pernikahan,hak perwalian berteriak hingga serak.Pada saat yang sama hak hak anak anak lain yang usianya lebih muda,yang berada dijalanan,nyaris tak dipersoalkan.
Padahal jelas,kehormatan,bahkan keselamatan mereka-mereka ini nyaris terlupakan.
Bukankah jumlah tkw kita di malysia bisa ratusan ribu atau bahkan jutaan?
Atau di negri-negri lain,karena kita memang”mengekspor”dengan bangga,sebagai bangsa pelopor jual jasa manusia sebagai pembantu rumah tangga?
Kadang,besitan pikiran ini menikam rasa keadilan yang sama.Jutaan nasib”non-Manohara”,seakan bukan yang perlu diperhatikan.Bahkan dari awal.Seakan anak=anak perempuan yang berada dijalanan dengan segala resikonya tak terlihat atau terasakan.
Kadang,kita bisa menyalahkan media yang pilih kasih,yang memanja satu orang dan meniadakan yang lainnya,yang senasib.
Namun memang begitulah tata krama yang ada dalam dunia indutri media massa.
”Nama membuat berita”.adalah tata nilai yang pertama.Manohara punya nama,juga kasusnya dan hubungannya dengan”pangeran”,sementara yang lainnya,bahkan inisialnya pun tak lebih dari tiga huruf.Ada yang agak-agak ada yang salah dalam pemihakan media,tetapi begitulah adanya.
Tidak selalu harus diartikan ini buruk.Kalau saja dari kasus semacam Manohara ini kita semua sekaligus juga disadarkan nasib yang kurang bagus kepada ”non-Manohara”,dan kita tak berhenti pada busa-busa”kawin harta—cerai cinta”belaka.
Kita disadarkan untuk jugaasecara lebih beneran memperhatikan dan menangani kasus-kasus yang ”tanpa cinta,hanya pemaksa”,yang terjadi pada warga negara yang terpaksa mengubah nasibnya dinegri orang karena tak ada kesempatan dinegri sendiri.
Hanya dengan menerima dan belajar dari sisi”busa-busa Manohara”.kita akan menemukan masalah yang lebih dasar,lebih besar,yang sebenar benarnya masalah warga negara kita,dimanapun mereka berada.
SUMBER: Bp.Arswendo Atmowiloto

2 komentar:
wiuh,,,wuih,,,,wuih,,,,
blog baru nee...???
ceilaa.....
wah,,, wah,,, wah,,,
isinya tentang konflik indonesia ma malaysia y...??
seru tuh...
moga2 aj g terjadi perang..
klo ntu mpe terjadi...
^_^ <= vincent
oalah...da yg comment toh..hhee
Posting Komentar