Pertanyaan inilah yg selalu dilontarkan oleh teman-teman wanita Fatimah. Mereka sungguh merasa heran dengan Fatimah, yg belum punya pacar padahal umur fatimah sudah lebih dari sweet seventeen. Rata-rata hampir semua teman Fatimah sudah memiliki pacar, yang kata mereka pacaran itu indah bangat , serasa dunia milik berdua (waduhh..!). Diantara teman-teman Fatimah pun ada yang berjilbab (jilbab versi masa kini) dan sudah memiliki pacar.
Meraka juga terheran-heran sama Fatiamah. Kenapa demikian karena Fatimah termasuk gadis yg paling cantik dan manis diantara mereka. Aura kecantikan Fatimah begitu memikat mereka , padahal fatimah masih menggunakan hijab (pakian longgar yg menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan). Pernah suatu saat teman-teman wanita Fatimah datang ke rumah Fatimah untuk mengerjakan tugas kelompok. Kebetulan waktu itu Fatimah sedang mau mengerjakan sholat Zuhur, karena semua teman-temanya Fatimah adalah wanita. Fatimah tidak merasa khawatir untuk membuka Hijabnya untuk keperluan wudu, sehingga nampaklah rambut indah fatimah serta leher fatimah. Saat itu teman-teman wanita Fatimah melihat Fatimah tidak memakai penetup kepala dan rambut serta leharnya kelihatan, mereka semua terpana bahkan salah seorang berteriak histeris : Wooww imah kamu cantik sekali ..!. Fatimah tersenyum mendengar teriakan keterpesonaan temannya itu. Salah satu temannya berkata: “Imah kamu tidak kalah sama pemain sinetron yang cantik itu, itu lo si Bella..?!”. Fatimah membalas : “ si Bella siapa ya..?”. Salah satu temannya heran: “Aduh Imah kamu tidak tahu si bella , semua orang juga tahu lagi, dia pemain sinetron yang lagi naik daun lo”. “Maaf Imah gak pernah nonton sinetron” balas fatimah. Salah seorang dari mereka bercanda sambil nyindir : “Makanya Imah jangan baca buku agama terus dong, bosan tau, sekali-kali nonton sinetron kek, ke pub kek, nongkrong malam mingguan kek sama kita-kita, kan biar gaul gitu, kan malu nanti gak dibilang gaul , masak si Bella aja kagak kenal”. Fatimah hanya tersenyum sedih dan dalam hatinya berkata : “ Ya Allah berilah petunjuk kepada teman-temanku ini”.
Bukannya Fatimah tidak pernah memberikan nasehat kepada mereka bahkan sering . Namun mereka hanya tersenyum masam-masam aja seolah menganggap remeh nasehat dari Fatimah bahkan setelah diberi nasehat bukannya berterimakasih tetapi malah dibuat candaan . “ Iya bu ustadzah” kata seorang temannya saat itu (Astagafirulloh). Bahkan yang lebih gila lagi ada seorang temannya , yang menganjurkan Fatimah untuk membuka hijabnya dan menganjurkan berpakaian ketat. Alasannya agar semua pria bisa melihat pesona kecantikan wajah Fatimah dan keseksian tubuh Fatimah. “ Eh Imah , kita-kita kan tau kamu cantik, full cantik, kalau boleh usul ni , itu jilbab dibuka saja. Berpakain kayak kita-kita gitu lo. Aku yakin para pria tampan dan ganteng akan datang ke Imah, untuk mendapatkan cinta Imah, kita-kita sebagai teman ikut bangga lo , barangkali aja kita-kita dapat keciprakan pria ganteng sisa-sisa dari Imah (sambil tertawa genit) ..” . Begitu kata salah seorang teman sekolah Fatimah. Tentu saja Fatimah yang tahu hukum bertabbaruj itu menolak dengan keras usulan tersebut.
Dalam kesendiriannya Fatimah berdoa agar Allah menunjuki atau memberi hidayah teman-temannya. Fatimah pernah dengar dari seorang temannya yang berpendapat. “ Imah kamu kan tahu aku ini pake jilbab juga, yah walau pun beda-beda dikit aja sama kamu, tapi aku pacaran juga, kan tidak ada salahnya punya pacar asalkan kita bisa menjaga diri kita” . Begitu kata pendapat temannya.
Apakah dia tidak tahu bahwa islam sangat perhatian tentang menjaga hati. Islam tidak mengekang cinta seseorang karena itu sudah fitrah manusia berlainan jenis . Tetapi islam menganjurkan untuk mengikuti aturan yang ada. Aturan dari yang menciptakan cinta itu yaitu Allah. Mungkin pendapat temannya Fatimah itu benar bahwa mereka tidak melakukan apa-apa dan bisa jaga diri. Ok-lah anggap saja mereka tidak melakukan hubungan badan seperti suami isteri. Tetapi berkali-kali Fatimah menjelaskan ke teman-temannya bahwa zina itu bukan hanya hubungan badan diluar nikah tapi ada beberapa zina selain itu.
Kemudian Fatimah teringat bunyi hadist: ““Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243).
Fatimah pernah membaca kitab dari imam An Nawawi tentang penjelasan hadis diatas bahwasanya : Pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157).
Sambil bergumam dalam hati Fatimah hampir dapat memastikan bahwa adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau lak-ilaki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!.
Salah seorang teman Fatimah berkata bahwa mereka berpacaran untuk proses pengenalan sebalum menuju ke pernikahan . Mereka berpendapat : “Bagaimana mungkin kita menikah tanpa pacaran terlebih dahulu tanpa mengenal masing-masing karekternya masing-masing. Gak mungkin dong ah” . Betul islam juga menganjurkan untuk mengenal pasangannya masing-masing tetapi bukan dengan cara berpacaran. Fatimah juga teringat akan hadis nabi berikut ini : : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan" (HR Ahmad).
Fatimah teringat akan kisah seorang sahabat yang datang kepada Rasul. Sahabat ini datang kepada Rasul untuk menyampaikan niatnya bahwa dia ingin menikah. Kemudian Rasululloh bertanya : “ Bagus , tapi apakah kamu sudah mengenali calon mu itu..?” . Kemudian si sahabat rasul ini menjawab : “ Belum ya Rasul..”. Selanjutnya rasul menyuruh dia agar terlebih dahulu mengenalinya. Artinya kita diwajibkan untuk mengenal pasangan kita terlebih dahulu (Ta’aruf) tapi bukan dengan pacaran melainkan dengan aturan yang ada.
Kemudian Fatimah juga teringat akan hadis berikut : “Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. alBukhori: 1862, Muslim: 1338). Pada dasarnya kita mengenal wanita yang ingin kita nikahi itu bisa melalui mahromnya wanita tersebut. Jadi bukan berdua-duan. Jika misalnya kita ingin meneliti akhlak si wanita tersebut tanpa sepengetahuannya kita boleh mengutus seseorang untuk menelitinya. Misalnya dengan temannya si mahrom wanita tersebut. Atau bisa juga memanfaatkan teknologi yang lagi ngetrend sekarang. Tukar biodatanya masing-masing via email. Juga bisa juga lewat chatting tetapi perlu diingat juga chatting disini bukan tidak ada batasnya. Dilarang chatting bebas artinya harus dalam rambu-rambu yang dibenarkan. Tidak boleh ada kata-kata maksiat atau yang lagi ngetren sekarang dengan menggunakan kata cinta-cintaan, sayang-sayangan dan sejenis itu. Chatting disini dilakukan semata-mata untuk mengenal si wanita tersebut. Saling tukar menukar informasi yang berguna ke proses penganalan tersebut dan tidak mengarah kepada maksiat juga tidak melalaikan serta mengotori hati.
Fatimah tidak mau menyalahkan sepenuhnya persepsi atau pandangan dari teman-temannya itu. Fatimah sadar bahwa yang mempengaruhi mereka adalah media-media ala barat , juga pergaulan ala barat yang banyak digemari sekarang ini. Fatimah menyadari bahwa acara-acara televisi sekarang mulai dari lagu-lagunya , filem-filemnya sampai sinetron-sinetronnya kebanyakan menyajikan cinta berlainan jenis. Dan cinta itu diwujudkan dengan pacaran dan mereka terjebak dalam lingkaran setan pergaulan seperti itu.
Fatimah dalam sholatnya dan dalam kesendiriannya hanya bisa berdoa : “ Ya Allah berilah hidayah kepada teman-teman hamba agar bisa merasakan, menikmati indahnya hasil menjaga hati, indahnya menjaga bagian tubuh ini dari hal-hal yang Engkau larang. Tangan ini hanya untuk dijalanMU , Mata ini hanya untuk melihat yg tidak Engkau larang dan segala anggota tubuh ini adalah amanah dariMU, yang engkau perintahkan untuk digunakan dijalanMU. Ya Allah berilah kenikmatan dan keinginan yang luar biasa, bagi hambaMU ini dan teman-teman hambaMU untuk selalu berada dijalanMU dan berilah kebencian yang luar biasa bagi hambaMU ini dan teman-teman hamba dari hal-hal yang Engkau larang. Sesungguhnya Engkau maha mendengar dan maha penyayang bagi hambaMU yang ikhlas memohon kepadaMU amin ya Allah”.
Seraya meneteskan air mata begitulah doa singkat yang selalu di lafazkan oleh Fatimah dalam setiap sholatnya dan dalam kesendiriaannya.
From : eramuslim.com
11/09/2009
Menjadi Sahabat Sejatimu
Seribu sahabat terlalu sedikit, seorang musuh terlalu banyak. Itulah ungkapan orang bijak yang menganjurkan kita untuk senantiasa menjalin persahabatan, merawat dan memupuknya. Persahabatan merupakan kebutuhan manusia yang dengan itu hidup terasa indah dan bermakna. Namun terkadang kita tidak menyadari ketika seseorang menawarkan persahabatan tersebut. Kesalahan itulah yang coba kubagi lewat tulisan ini. Selama ini Ia tidak masuk dalam daftar nama-nama sahabatku. Entahlah... mungkin karena aku hanya mengenal lewat suaminya yang saat itu sekantor dengan suamiku. Kami juga jarang berinteraksi dalam suatu kegiatan ataupun acara kantor. Ia seorang wanita karir, hampir seluruh harinya dihabiskan di kantor. Ternyata dalam kesibukannya tersebut dia masih meluangkan waktu untuk menjalin persahabatan.
Mba Nia begitu aku memanggilnya. Sosok ibu yang bersahaja, supel dan bersahabat. Aku baru ingat ternyata selama ini ia selalu hadir dalam momen-momen indah kehidupanku selama kurang lebih dua tahun ini. Yang juga tidak luput dari kehadirannya, saat kami keluarga besar ditinggal pergi oleh ayah mertuaku, ia juga hadir cukup lama menemaniku, menghiburku,memberiku kekuatan. Tetapi aku tidak menyadari kehadirannya atau lebih tepatnya tidak menganggapnya ada. Yah.. baru aku sadari sekarang, ternyata aku terlalu angkuh untuk membuka hati untuknya. Saat itu aku hanya berpikir ia mau berteman denganku karena suaminya. Dia hadir dalam momen-momen penting tersebut karena ajakan suaminya. Ya semua ia lakukan karena suaminya bawahan suamiku. Sungguh terlalu picik aku berpikir.
Saat ini setelah suaminya tidak lagi sekantor dengan suamiku ternyata ia masih tetap sama. Ia masih rajin SMS hanya untuk menanyakan kabarku sekeluarga. Ia bahkan tidak sungkan untuk mampir jika kebetulan dalam perjalanan dan lewat di sekitar rumahku. Ia juga sering sekali menelpon hanya untuk menanyakan perkembangan buah hatiku. Tetapi semua kutanggapi biasa saja. Hatiku terlalu keras untuk memahami kebaikannya.
Suatu ketika aku menerima SMS dari seseorang yang isinya bahwa bayinya sedang demam. Tanpa berpikir lagi aku membalasnya “maaf ini dengan siapa?”. Lalu kembali dia membalas SMSku, “ ini dengan Mba Nia”. Aku bingung sepertinya aku tidak memiliki teman yang namanya Nia. Satu-satunya temanku yang bernama Nia adalah teman kuliah empat tahun yang lalu, dan sudah lama sekali tidak pernah kontak. Akupun kembali membalas SMSnya “ ini Mba Nia Makassar ya?” lalu diapun menjawab singkat “ Nia Rahman”. Aku terdiam dan memutar memori, lalu setengah tercekat aku sadar. Mba Nia? Masya Allah…Mba Nia punya bayi? Kapan hamilnya? Kapan melahirkannya? Ya…Allah aku baru sadar ternyata aku sangat cuek, nomor handphonenyapun tidak tersimpan di handphoneku.
Selama ini ia yang selalu memulai menelpon, mengirim sms menanyakan kondisiku dan keluarga. Sungguh aku sangat egois. Saat itupun dengan sangat malu aku langsung menelponnya,berbasi-basi menanyakan kondisi bayinya yang sedang sakit tersebut. Aku juga tidak lupa menjelaskan analisaku tentang kemungkinan sakit bayinya tersebut. Dan di ujung telepon akupun hanya bisa menyarankan pilihan terakhir ke dokter spesialis anak. Setelah itu tidak juga hatiku tergerak untuk mengunjunginya. Hari-hari selanjutnya aku sibuk dan melupakannya. Lalu tidak sampai seminggu kubaca SMSnya, “ Mba makasih banyak ya, karena sarannya Mba sekarang bayiku dah sehat”. Saat itu aku kembali seperti tertampar membaca smsnya, malu..sangat.
Cinta itu senantiasa memberi tanpa berharap menerima. Suatu hari ketika aku pulang kantor, saat masuk ke kamar, sebuah kado indah ada di meja. Tidak sabar akupun membukanya, sepasang baju yang pas dengan ukuran anakku dan sebuah jilbab cantik seukuran yang biasa aku pakai. Aku bolak balik bungkus kado tetapi tidak kutemukan sebuah nama di sana. Hatiku bertanya siapa kiranya yang memberikan kado tersebut. Akupun segera bertanya kepada Budi adikku yang saat itu ada di rumah dan menanyakan perihal kado tersebut. Dengan panjang lebar Budi menerangkan sosok pemberi kado tersebut.
Setelah menalar ciri-cirinya akupun memastikan bahwa si Pemberi kado tersebut adalah Mba Nia. Surprise yang sempurna. Saat itupun aku kembali didera rasa malu. Aku tidak tahu bagaimana menyembunyikan perasaan tersebut. Akupun berinisiatif menelponnya, kali ini aku berpikir menghapus kesan cuek yang selama ini kulakukan padanya. Alhamdulillah kali ini aku telah menyimpan nomornya, dua kali kucoba hubungi tetapi dia tidak mengangkat handphonenya. Setelah agak lama dia menghubungiku, tidak lupa ia meminta maaf karena ketika aku hubungi dia sedang mengurus bayinya yang sedang rewel.
Sampai beberapa menit ia bicara tak sedikitpun menyinggung masalah kado tersebut, kemudian aku berpikir mungkin bukan dia si pemberi kado itu. Lalu dengan dipenuhi rasa penasaran aku menanyakan apakah tadi malam ia mampir ke rumahku. Ia lalu bercerita bahwa kemarin memang sengaja ingin bersilaturahmi ke rumahku kebetulan suaminya yang selama ini bertugas di luar kota sedang libur. Tetapi dengan sedikit kecewa ia mengatakan tidak dapat bertemu denganku. Lagi-lagi ia tidak menyinggung perihal kado tersebut. Lalu dengan agak ragu kukatakan terima kasih atas kadonya. Baru kemudian dia mengatakan “ mudah-mudahan Mba senang menerimanya”. Waduh gimana sih Mba Nia, jelas aku senang menerimanya tetapi sumpah saat ini aku sangat malu dan merasa sangat rendah di hadapan Mba Nia.
Aku baru tahu ternyata dia kembali dari Yogyakarta 2 pekan lalu. Di sana ia melahirkan dan menghabiskan masa cutinya. Ya, Aku ingat lebih dari 2 bulan tidak menerima sms dan telponnya. Betapa jahatnya aku, tidak pernah peduli padanya. Sungguh sangat berbeda dengan dia, walaupun aku tidak pernah menghubunginya toh dia masih saja mengingatku. Salah satunya dengan memberiku kado yang katanya oleh-oleh dari Yogya. Yang membuatku ingin menangis saat kukatakan “ Mba Nia…terima kasih atas kadonya, ngga nyangka Mba Nia sebaik ini dan selalu mengingat saya”. Lalu dia menjawab “ saya selalu mengingat orang-orang baik seperti Mba Yanti”. Hah, ingin sekali aku berteriak dan menanyakan apakah benar yang dia ucapkan itu. Aku orang baik, kuulang-ulang terus kalimat itu. Kali ini aku benar-benar menangis, sepertinya dia hanya menyinggungku, mengajari aku bagaimana menjadi orang baik.
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa menuntun kita ke jalan yang benar. Salah satu bimbingan Allah agar kita senantiasa di Jalan-Nya adalah dengan mengirimkan orang-orang baik untuk menjadi guru dalam hidup. Bagiku Mba Nia adalah orang baik yang dikirimkan Allah untuk mengajariku makna persahabatan. Persahabatan yang sejati tanpa batas kepentingan. Selama ini aku telah salah berpikir. Seorang sahabat versiku jika ia sekantor, satu tempat pengajian, seprofesi,dan seide denganku.
Aku harus kembali mensetting ulang pikiranku tentang makna sahabat. Mba Nia sangat layak untuk menjadi sahabat, itu kesimpulanku sekarang. Dia telah mengajariku banyak hal, ketulusan, silaturahmi, persaudaraan. Ia juga telah membimbingku tanpa kata bahwa menjalin persahabatan itu hendaknya karena Allah bukan karena embel-embel duniawi. Aku yang hampir tiap pekan belajar agama ternyata masih belum bisa melakukannya. Mba Nia dengan pengetahuan islam yang awam telah menjadi guruku, sahabatku, saudaraku. Terima kasih Mba Nia..atas kehadirannya mewarnai hari-hariku. Insya Allah mulai detik ini aku akan berusaha menjadi sahabat terbaikmu, menjadi orang baik dan kita bersinergi untuk memupuk hidayah Allah. Amin… .
For Comment : sriyanti_anwar@yahoo.co.id era.muslim.com
Mba Nia begitu aku memanggilnya. Sosok ibu yang bersahaja, supel dan bersahabat. Aku baru ingat ternyata selama ini ia selalu hadir dalam momen-momen indah kehidupanku selama kurang lebih dua tahun ini. Yang juga tidak luput dari kehadirannya, saat kami keluarga besar ditinggal pergi oleh ayah mertuaku, ia juga hadir cukup lama menemaniku, menghiburku,memberiku kekuatan. Tetapi aku tidak menyadari kehadirannya atau lebih tepatnya tidak menganggapnya ada. Yah.. baru aku sadari sekarang, ternyata aku terlalu angkuh untuk membuka hati untuknya. Saat itu aku hanya berpikir ia mau berteman denganku karena suaminya. Dia hadir dalam momen-momen penting tersebut karena ajakan suaminya. Ya semua ia lakukan karena suaminya bawahan suamiku. Sungguh terlalu picik aku berpikir.
Saat ini setelah suaminya tidak lagi sekantor dengan suamiku ternyata ia masih tetap sama. Ia masih rajin SMS hanya untuk menanyakan kabarku sekeluarga. Ia bahkan tidak sungkan untuk mampir jika kebetulan dalam perjalanan dan lewat di sekitar rumahku. Ia juga sering sekali menelpon hanya untuk menanyakan perkembangan buah hatiku. Tetapi semua kutanggapi biasa saja. Hatiku terlalu keras untuk memahami kebaikannya.
Suatu ketika aku menerima SMS dari seseorang yang isinya bahwa bayinya sedang demam. Tanpa berpikir lagi aku membalasnya “maaf ini dengan siapa?”. Lalu kembali dia membalas SMSku, “ ini dengan Mba Nia”. Aku bingung sepertinya aku tidak memiliki teman yang namanya Nia. Satu-satunya temanku yang bernama Nia adalah teman kuliah empat tahun yang lalu, dan sudah lama sekali tidak pernah kontak. Akupun kembali membalas SMSnya “ ini Mba Nia Makassar ya?” lalu diapun menjawab singkat “ Nia Rahman”. Aku terdiam dan memutar memori, lalu setengah tercekat aku sadar. Mba Nia? Masya Allah…Mba Nia punya bayi? Kapan hamilnya? Kapan melahirkannya? Ya…Allah aku baru sadar ternyata aku sangat cuek, nomor handphonenyapun tidak tersimpan di handphoneku.
Selama ini ia yang selalu memulai menelpon, mengirim sms menanyakan kondisiku dan keluarga. Sungguh aku sangat egois. Saat itupun dengan sangat malu aku langsung menelponnya,berbasi-basi menanyakan kondisi bayinya yang sedang sakit tersebut. Aku juga tidak lupa menjelaskan analisaku tentang kemungkinan sakit bayinya tersebut. Dan di ujung telepon akupun hanya bisa menyarankan pilihan terakhir ke dokter spesialis anak. Setelah itu tidak juga hatiku tergerak untuk mengunjunginya. Hari-hari selanjutnya aku sibuk dan melupakannya. Lalu tidak sampai seminggu kubaca SMSnya, “ Mba makasih banyak ya, karena sarannya Mba sekarang bayiku dah sehat”. Saat itu aku kembali seperti tertampar membaca smsnya, malu..sangat.
Cinta itu senantiasa memberi tanpa berharap menerima. Suatu hari ketika aku pulang kantor, saat masuk ke kamar, sebuah kado indah ada di meja. Tidak sabar akupun membukanya, sepasang baju yang pas dengan ukuran anakku dan sebuah jilbab cantik seukuran yang biasa aku pakai. Aku bolak balik bungkus kado tetapi tidak kutemukan sebuah nama di sana. Hatiku bertanya siapa kiranya yang memberikan kado tersebut. Akupun segera bertanya kepada Budi adikku yang saat itu ada di rumah dan menanyakan perihal kado tersebut. Dengan panjang lebar Budi menerangkan sosok pemberi kado tersebut.
Setelah menalar ciri-cirinya akupun memastikan bahwa si Pemberi kado tersebut adalah Mba Nia. Surprise yang sempurna. Saat itupun aku kembali didera rasa malu. Aku tidak tahu bagaimana menyembunyikan perasaan tersebut. Akupun berinisiatif menelponnya, kali ini aku berpikir menghapus kesan cuek yang selama ini kulakukan padanya. Alhamdulillah kali ini aku telah menyimpan nomornya, dua kali kucoba hubungi tetapi dia tidak mengangkat handphonenya. Setelah agak lama dia menghubungiku, tidak lupa ia meminta maaf karena ketika aku hubungi dia sedang mengurus bayinya yang sedang rewel.
Sampai beberapa menit ia bicara tak sedikitpun menyinggung masalah kado tersebut, kemudian aku berpikir mungkin bukan dia si pemberi kado itu. Lalu dengan dipenuhi rasa penasaran aku menanyakan apakah tadi malam ia mampir ke rumahku. Ia lalu bercerita bahwa kemarin memang sengaja ingin bersilaturahmi ke rumahku kebetulan suaminya yang selama ini bertugas di luar kota sedang libur. Tetapi dengan sedikit kecewa ia mengatakan tidak dapat bertemu denganku. Lagi-lagi ia tidak menyinggung perihal kado tersebut. Lalu dengan agak ragu kukatakan terima kasih atas kadonya. Baru kemudian dia mengatakan “ mudah-mudahan Mba senang menerimanya”. Waduh gimana sih Mba Nia, jelas aku senang menerimanya tetapi sumpah saat ini aku sangat malu dan merasa sangat rendah di hadapan Mba Nia.
Aku baru tahu ternyata dia kembali dari Yogyakarta 2 pekan lalu. Di sana ia melahirkan dan menghabiskan masa cutinya. Ya, Aku ingat lebih dari 2 bulan tidak menerima sms dan telponnya. Betapa jahatnya aku, tidak pernah peduli padanya. Sungguh sangat berbeda dengan dia, walaupun aku tidak pernah menghubunginya toh dia masih saja mengingatku. Salah satunya dengan memberiku kado yang katanya oleh-oleh dari Yogya. Yang membuatku ingin menangis saat kukatakan “ Mba Nia…terima kasih atas kadonya, ngga nyangka Mba Nia sebaik ini dan selalu mengingat saya”. Lalu dia menjawab “ saya selalu mengingat orang-orang baik seperti Mba Yanti”. Hah, ingin sekali aku berteriak dan menanyakan apakah benar yang dia ucapkan itu. Aku orang baik, kuulang-ulang terus kalimat itu. Kali ini aku benar-benar menangis, sepertinya dia hanya menyinggungku, mengajari aku bagaimana menjadi orang baik.
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa menuntun kita ke jalan yang benar. Salah satu bimbingan Allah agar kita senantiasa di Jalan-Nya adalah dengan mengirimkan orang-orang baik untuk menjadi guru dalam hidup. Bagiku Mba Nia adalah orang baik yang dikirimkan Allah untuk mengajariku makna persahabatan. Persahabatan yang sejati tanpa batas kepentingan. Selama ini aku telah salah berpikir. Seorang sahabat versiku jika ia sekantor, satu tempat pengajian, seprofesi,dan seide denganku.
Aku harus kembali mensetting ulang pikiranku tentang makna sahabat. Mba Nia sangat layak untuk menjadi sahabat, itu kesimpulanku sekarang. Dia telah mengajariku banyak hal, ketulusan, silaturahmi, persaudaraan. Ia juga telah membimbingku tanpa kata bahwa menjalin persahabatan itu hendaknya karena Allah bukan karena embel-embel duniawi. Aku yang hampir tiap pekan belajar agama ternyata masih belum bisa melakukannya. Mba Nia dengan pengetahuan islam yang awam telah menjadi guruku, sahabatku, saudaraku. Terima kasih Mba Nia..atas kehadirannya mewarnai hari-hariku. Insya Allah mulai detik ini aku akan berusaha menjadi sahabat terbaikmu, menjadi orang baik dan kita bersinergi untuk memupuk hidayah Allah. Amin… .
For Comment : sriyanti_anwar@yahoo.co.id era.muslim.com
Langganan:
Komentar (Atom)
